Penyembelihan Kurban

1. Pengertian Kurban

Secara bahasa, kata kurban berasal dari bahasa Arab dari kata dasar qarraba-yuqarribu-qurba-nan, yang artinya mendekat. Dengan demikian, makna kurban dalam Islam berarti mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan berusaha menyingkirkan hal-hal yang dapat membatasi kedekatan kita kepada Allah Swt.

Ibadah kurban dalam ilmu fikih berarti penyembelihan hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt. pada Idul Adha atau hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Ibadah kurban telah diperintahkan oleh Rasulullah untuk dilaksanakan oleh kaumnya dan mulai disyariatkan pada tahun kedua hijriah bersamaan dengan disyariatkannya zakat, salat Idul Fitri, dan Idul Adha.

Ibadah kurban merupakan ajaran untuk meneruskan syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Pada waktu itu Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah untuk menyembelih Ismail, putranya. Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah tersebut. Ia rela mengurbankan putra tercintanya demi melaksanakan perintah Allah. Selanjutnya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba sehingga selamatlah Ismail.

2. Hukum Kurban

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum mengerjakannya, ada yang berpendapat wajib, ada pula yang berpendapat sunah. Untuk mengetahui ketentuan hukumnya, simaklah beberapa dalil berikut ini.

fas.alli lirabbika wanh. ar

Artinya: Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). (Q.S. al-Kaus.ar [108]: 2)

Rasulullah juga menjelaskan ketentuan hukum kurban dalam hadis-hadis sebagai berikut.

Artinya: Dari Abu Hurairah telah bersabda Rasulullah saw.: Siapa saja yang mempunyai kemampuan, tetapi tidak berkurban maka janganlah ia mendekati tempat salatku. (H.R. Ah. mad dan Ibnu Ma – jah)

Alasan-alasan yang menyebutkan bahwa hukum kurban adalah sunah berdasarkan hadis yang artinya, ”Rasulullah saw. bersabda, ’Saya disuruh menyembelih kurban dan kurban itu sunah bagi kamu’.” (H.R. Tirmiz.i – ) Dalam hadis yang lain Rasulullah saw. bersabda yang artinya, ”Diwajibkan kepadaku berkurban, dan tidak wajib atas kamu.” (H.R. Daruqutni)

3. Ketentuan Kurban

a. Jenis dan Syarat Hewan Kurban

Hewan untuk dijadikan kurban adalah hewan yang tidak cacat seperti pincang, buta, terpotong telinga, dan telah memenuhi syarat. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw. dari Barra’ bin Azib berikut ini:

Artinya: Dari Barra’ bin ‘Azib, Rasulullah saw. bersabda: Empat macam binatang tidak sah dijadikan kurban: rusak matanya, sakit, pincang, dan kurus tidak bergajih lagi. (H.R. Ahmad disahihkan oleh Tirmizi – )

Hewan yang dapat dijadikan sebagai hewan kurban adalah kambing, sapi, kerbau, dan unta. Hewan-hewan kurban tersebut harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain sebagai berikut.
1) Domba (gibas) telah berumur satu tahun atau telah berganti giginya (musinnah).
2) Kambing telah berumur dua tahun lebih.
3) Sapi atau kerbau, telah berumur dua tahun lebih.
4) Unta, telah berumur lima tahun lebih.

Dalil-dalil yang menjelaskan tentang syarat dari hewan kurban sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah saw. yang berbunyi seperti berikut.

Artinya: Dari Jabir, Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu menyembelih untuk kurban melainkan yang musinnah (telah berganti gigi) kecuali jika sukar didapat, maka boleh jaz’ah (yang baru berumur satu tahun lebih) dari kambing biri-biri. (H.R. Muslim)

Artinya: Dari Jabir, dia berkata: Kami telah menyembelih kurban bersama Rasulullah saw. pada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang. (H.R. Muslim)

b. Syarat Sahibul Kurban

Bagi sahibul kurban atau orang yang melakukan kurban juga ada syarat-syarat sebagai berikut.
1) orang yang melaksanakan kurban hendaklah orang Islam, merdeka, akil balig, dan
2) dapat menyediakan hewan kurbannya tanpa berutang.

c. Sunah dalam Kurban

Selain sunah yang berlaku pada penyembelihan hewan secara umum, pada waktu menyembelih disunahkan hal-hal antara lain:
1) membaca basmalah dan selawat kepada nabi;
2) membaca takbir;
3) berdoa semoga Allah berkenan menerima amal kurban tersebut; dan
4) disunahkan bagi orang yang berkurban makan sedikit dari daging kurbannya (maksimal sepertiga), sedangkan sebagian besarnya disedekahkan kepada orang lain terutama kepada fakir miskin. Khusus untuk orang yang berkurban karena nazar, dilarang baginya makan daging kurbannya.

d. Larangan dalam Berkurban

Selain hal-hal yang disyaratkan dan disunahkan dalam kurban, terdapat larangan dalam kurban.

1) Bagian apa pun dari hewan kurban tidak boleh dijual oleh orang yang berkurban atau panitia penyelenggara. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah yang artinya, ”Janganlah kamu jual daging denda haji dan daging kurban. Makan dan sedekahkanlah dagingnya itu, ambillah kulitnya dan jangan dijual.” (H.R. Ah.mad)

2) Orang yang berkurban karena suatu nazar tidak boleh makan dan tidak boleh menjual sekalipun kulitnya.

Selanjutnya, kurban yang kita berikan harus sesuatu yang baik. Hal ini karena kurban dengan sesuatu yang tidak baik tidak akan diterima oleh Allah. Sesuatu yang baik menurut Islam adalah:
1) cara memperolehnya baik dan sesuai dengan tuntunan agama Islam;
2) baik wujud bendanya; serta
3) baik cara penggunaannya.

4. Hikmah Kurban

Dalam ajaran Islam, setiap perbuatan yang dianjurkan pasti memiliki manfaat dan kegunaan. Demikian juga ibadah kurban, terdapat beberapa hikmah mendalam dan fungsi yang penting antara lain sebagai berikut.
. Menjadi bukti ketaatan seseorang kepada Allah.
b. Sebagai tanda syukur atas rezeki yang telah diterima dari Allah.
c. Mencegah sikap tamak dan rakus.
d. Menunjukkan rasa belas kasih kepada sesama.
e. Menjembatani kesenjangan sosial dan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin.
f Melatih semangat berkurban untuk kepentingan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Amali
Setelah mempelajari dan memahami tentang penyembelihan hewan menurut syariat Islam, mari kita biasakan hal-hal berikut.
1. Menyembelih hewan yang dihalalkan sesuai syariat Islam.
2. Menyembelih hewan dengan memotong urat nadi, saluran makanan, dan saluran pernapasan.
3. Menyebut nama Allah Swt. ketika menyembelih hewan sebagai izin untuk menyembelih ciptaan-Nya.
4. Menyembelih hewan dengan pisau yang tajam atau kayu serta batu yang memiliki sisi tajam.
5. Tidak menyembelih hewan dengan kuku atau gigi.
6. Menyembelih hewan atas kelahiran bayi, dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan satu ekor kambing untuk bayi perempuan.
7. Memilih hewan kurban atau akikah sesuai dengan syariat Islam.
8. Memilih hewan kurban yang sehat dan banyak dagingnya (gemuk).
9. Membagi daging akikah setelah dimasak dan membagikan daging kurban sebelum dimasak.

Ikhtisar Penyembelihan Hewan Akikah dan Kurban

1. Penyembelihan hewan dilakukan dengan cara memotong hewan pada bagian leher dengan pisau atau benda tajam lainnya.
2. Penyembelihan hewan dapat dilakukan secara tradisional maupun mekanik.
3. Menyembelih hewan harus didahului dengan menyebut nama Allah Swt.
4. Akikah secara syar’i berarti penyembelihan hewan sebagai wujud rasa syukur atas bayi yang baru lahir.
5. Penyembelihan akikah disunahkan pada hari ketujuh, keempat belas, kedua puluh satu, dari hari kelahiran anak.
6. Kurban dapat diartikan dengan berusaha menyingkirkan hal-hal yang dapat membatasi dari usaha mendekatkan diri kepada Allah Swt.
7. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum kurban adalah wajib dan ada yang berpendapat hukumnya sunah.
8. Hewan yang dapat dijadikan kurban adalah domba, kambing, sapi atau kerbau, dan unta.

Muhasabah
Islam mengajarkan pemeluknya agar menyembelih hewan yang halal dikonsumsi dengan benda yang tajam. Perintah tersebut mengandung hikmah agar hewan tidak tersiksa atau merasakan sakit. Penyembelihan hewan juga dilakukan pada saat kelahiran bayi yang biasa disebut akikah. Selain itu, penyembelihan hewan juga dilakukan pada Idul Adha atau hari Tasyrik yang disebut kurban. Penyembelihan hewan akikah atau kurban harus sesuai dengan syariat Islam. Penyembelihan hewan sesuai dengan syariat Islam menghasilkan daging yang sehat dan bersih.

Penyembelihan Akikah

1. Pengertian Akikah

Akikah berasal dari kata iqqah yang berarti bulu atau rambut anak yang baru lahir. Ada juga yang mengatakan bahwa akikah merupakan nama bagi hewan yang disembelih. Akikah secara syar’i berarti penyembelihan hewan sebagai kurban atas bayi yang baru lahir. Penyembelihan hewan ini sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran karena telah diberi amanah berupa anak.

Di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum pelaksanaan akikah. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum akikah adalah sunah bagi orang yang menanggung nafkah anak. Hal ini dapat ditemukan penjelasannya dalam hadis Rasulullah saw. yang berbunyi seperti berikut. (Sulaiman Rasyid. 1995: halaman 479)

Artinya: Dari Aisyah r.a., ia berkata, ”Bahwasannya Rasulullah saw. memerintah para sahabat agar anak-anak laki-laki diberikan akikah dua kambing yang sudah cukup umur, dan bagi seorang anak wanita satu kambing”. (H.R. Tirmiz . i – )

Beberapa ulama lain berpendapat bahwa hukum akikah adalah wajib dengan alasan merujuk pada hadis Rasulullah yang mengibaratkan anak yang baru lahir seperti rungguhan/gadai. Rungguhan dalam transaksi ekonomi berarti jaminan yang baru dapat diambil jika utang telah dibayarkan. Berkaitan dengan pengibaratan anak yang baru lahir seperti rungguhan, simaklah hadis berikut ini.

Artinya: Dari Samurah r.a., ia berkata Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, ”Setiap anak laki-laki rungguhan/tergadai dengan akikahnya, yang disembelih setelah mencapai usia tujuh hari, dan dicukur rambutnya serta diberi nama.” (H.R. Ah.mad dan Imam empat disahihkan oleh Tirmiz . i – )

Berdasarkan hadis di atas diketahui bahwa setiap anak yang baru lahir adalah rungguhan/tergadai dengan akikahnya. Sebelum diakikahi setiap anak masih merupakan rungguhan. Setelah diakikahi bayi atau tersebut telah terbebas dari rungguhan atau gadaiannya.

2. Ketentuan Akikah

Penyembelihan hewan untuk akikah dilakukan dengan cara-cara dan ketentuan sesuai syariat Islam. Misalnya berkaitan dengan waktu penyembelihan, hewan yang disembelih, dan tata cara pembagiannya.

a. Waktu Akikah

Waktu penyembelian akikah disunahkan pada hari ketujuh dari hari kelahiran anak. Meskipun demikian jika belum bisa, boleh juga lebih dari itu asal anak belum sampai dewasa. Contohnya dilaksanakan pada hari ke-14 atau ke-21 dari kelahiran anak.

Sebagian ulama melarang melakukan akikah ketika anak berusia dewasa dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut.
1) Ketika anak sudah balig, ia telah memiliki tanggung jawab kepada dirinya sendiri, tidak lagi tergantung secara keseluruhan kepada orang tua.
2) Pelaksanaan acara akikah dalam Islam sebaiknya dirangkaikan dengan pemberian nama dan mencukur rambut. Anak yang sudah balig tentu akan merasa malu, jika dia baru diberi nama dan dicukur rambutnya dengan disaksikan banyak orang.

b. Jenis Hewan dan Jumlah Akikah

Hewan akikah adalah berupa kambing atau domba yang sehat, gemuk, dan tidak cacat. Jumlah hewan akikah adalah seekor kambing untuk bayi perempuan dan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki.

c. Sunah-Sunah Akikah

Ada beberapa amalan sunah dalam melakukan akikah, yaitu ketika menyembelih hewan disunahkan untuk membaca doa terlebih dahulu. Disunahkan juga agar daging akikah dimasak terlebih dahulu sebelum disedekahkan.

Selain ketentuan di atas, bagi yang menyelenggarakan akikah boleh mengonsumsi sebagian dari daging akikahnya dan maksimal sepertiganya.

3. Hikmah Akikah

Anjuran untuk melakukan akikah mengandung beberapa hikmah yang sangat penting. Hikmah-hikmah tersebut antara lain sebagai berikut.
1) Perwujudan rasa syukur kepada Allah karena dikaruniai nikmat yang sangat besar berupa anak sebagai generasi penerus hidupnya.
2) Upaya mengajak anak untuk bertaqarub kepada Allah sejak masa-masa awal kehidupan di dunia ini.
3) Sebagai tebusan bagi anak sehingga syafaat kepada kedua orang tuanya pada hari akhir kelak diterima oleh Allah Swt.
4) Memperkenalkan kepada masyarakat atas kelahiran anak sebagai usaha mengukuhkan tali persaudaraan di antara sesama.
5) Sarana yang potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan membagikan sebagian rezeki kita berupa sajian daging akikah.

Penyembelihan Hewan (Akikah dan Kurban)

A. Penyembelihan Hewan
1. Pengertian Penyembelihan

Penyembelihan hewan dilakukan dengan cara memotong hewan pada bagian leher dengan pisau atau benda tajam lainnya agar nyawa tersebut hilang. Menyembelih hewan dengan memotong urat saluran pernapasan dan urat saluran makanan. (Sulaiman Rasyid. 1995: halaman 470)

Penyembelihan hewan dapat dilakukan secara sederhana dan tradisional, yaitu cukup dengan bantuan pisau atau benda tajam lainnya. Dapat pula dilakukan secara mekanik, yaitu dengan menggunakan peralatan modern berupa mesin yang dibuat khusus untuk pemotongan hewan.

Penyembelihan secara sederhana atau tradisional pada umumnya dilakukan dalam skala kecil, seperti rumah tangga atau ketika Idul Adha. Penyembelihan secara mekanik biasa dilakukan oleh perusahaan pengolahan daging tertentu dengan skala penyembelihan hewan yang sangat besar. Meskipun dua model penyembelihan tersebut memiliki perbedaan, tetapi harus tetap memerhatikan tata cara yang dibenarkan oleh syar‘i. Penyembelihan secara mekanik yang melanggar ketentuan syar‘i seperti dengan cara menyetrum hewan, hukumnya dilarang.

Menyetrum hewan dengan aliran listrik dapat menyakiti hewan dan dagingnya menjadi haram.

2. Tata Cara Penyembelihan

Agar penyembelihan yang dilakukan sah sehingga daging sembelihan halal dikonsumsi menurut ketentuan syar‘i, penyembelihan harus memenuhi beberapa persyaratan. Persyaratan tersebut meliputi syarat bagi penyembelih, hewan yang disembelih, alat penyembelihan, atau bagian tubuh yang disembelih.

a. Penyembelih

Menyembelih hewan harus dengan menyebut nama Allah Swt. dan dilakukan oleh orang Islam atau ahli kitab, yaitu orang yang berpegang pada kitab Allah. Ketentuan halalnya penyembelihan ahli kitab seperti dijelaskan dalam Surah al-Ma – ’idah [5] ayat 5 yang artinya, ”Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baikbaik. Makanan (sembelihan) ahli kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka . . . .”

Penyembelih disyaratkan seorang muslim.

b. Hewan yang Disembelih

Syarat hewan atau binatang yang disembelih adalah yang halal dikonsumsi. Hewan atau binatang yang haram dikonsumsi, meskipun disembelih dan diperlakukan sesuai dengan ketentuan syar‘i, hukumnya tetap haram. Misalnya, babi yang disembelih sesuai dengan syariat Islam tidak mengubah hukumnya. Babi tetap haram meskipun disembelih sesuai dengan syariat Islam.

c. Alat Penyembelihan

Syarat alat penyembelihan yang harus dipenuhi, baik secara tradisional maupun mekanik sebagai berikut.
1) Tajam (tidak tumpul) sehingga mempercepat penyembelihan dan tidak menyiksa hewan yang disembelih.
2) Alat penyembelihannya bisa dari besi, logam, batu, atau kayu yang memiliki sisi tajam.
3) Tidak diperbolehkan dengan alat yang terbuat dari gigi, kuku, atau tulang.

d. Anggota Tubuh yang Disembelih

Anggota tubuh hewan yang disembelih tidak boleh sembarangan.

Akan tetapi, anggota tubuh hewan yang disembelih sebagai berikut.
1) Hewan yang dapat disembelih di lehernya, hendaklah disembelih di lehernya. Caranya, dipotong urat saluran pernapasan dan urat saluran makanannya.
2) Hewan yang tidak dapat disembelih di lehernya karena liar atau jatuh ke dalam lubang, boleh disembelih di semua bagian badannya, asal hewan itu dapat mati karena cara penyembelihannya tersebut.

Ketentuan menyembelih hewan liar seperti dijelaskan dalam hadis berikut.

Artinya: Dari Rafi’ ia berkata, ”Kami pernah beserta Rasulullah dalam perjalanan. Kami bertemu dengan seekor unta milik suatu kaum yang lari, sedangkan mereka tidak membawa kuda untuk mengejarnya. Maka dilemparlah (unta itu) oleh seorang laki-laki dengan anak panahnya kemudian unta itu pun mati. Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya hewan itu tabiatnya seperti tabiatnya binatang liar. Pada hewan-hewan yang serupa, perbuatlah dengan cara demikian. (H.R. Jama‘ah)

3. Hikmah Penyembelihan

Islam mengajarkan agar memperlakukan hewan yang dihalalkan sebelum dikonsumsi sesuai syariat Islam, yaitu dengan disembelih. Penyembelihan hewan harus sesuai dengan syariat Islam. Adanya ketentuan tata cara penyembelihan sebagaimana disebutkan di depan mengandung hikmah yang sangat penting. Di antara hikmah penyembelihan hewan sebagai berikut.

a. Hewan yang disembelih pada saluran makanan dan saluran pernapasan menyebabkan darah mengalir sehingga hewan mati karena kehabisan darah. Darah yang mengalir dari hewan yang disembelih menyebabkan daging tidak tercemar olehnya. Hal ini berbeda dengan hewan yang mati karena dipukul atau dicekik. Darah hewan yang mati dipukul atau dicekik tidak mengalir sehingga darah dapat mencemari dagingnya.

b. Penyebutan nama Allah Swt. pada saat menyembelih merupakan wujud sikap ikhlas kepada Allah Swt. Kita memohon agar Allah Swt. meridai penyembelihan sehingga akan mendapatkan keberkahan rezeki dari-Nya. Selain itu, penyebutan nama Allah Swt. akan menumbuhkan kesadaran pada diri kita bahwa yang berhak mencabut nyawa makhluk hanyalah Allah Swt., sang khalik.

c. Tuntunan untuk menggunakan benda tajam pada saat penyembelihan bertujuan agar hewan tersebut dapat mati dengan cepat dan meringankan, tanpa siksaan. Penyembelihan tidak boleh seperti yang dilakukan oleh binatang liar, yaitu menggunakan gigi atau kuku. Cara ini tidak pantas dilakukan oleh manusia dan termasuk penyiksaan terhadap hewan.

d. Anjuran untuk menyembelih pada bagian leher supaya lebih cepat mati. Menyembelih atau mematikan dengan melukai bagian tubuh lain hanya diperbolehkan jika dalam keadaan terpaksa, seperti karena hewan yang sangat liar sehingga memberontak.

I’lam
Menyembelih hewan dengan pisau yang tajam menurut orang-orang Barat merupakan tindakan yang tidak manusiawi terhadap binatang. Ketika akan menyembelih hewan mereka memingsankan hewan terlebih dahulu baru kemudian menyembelihnya. Cara ini mereka anggap lebih manusiawi. Akan tetapi, Islam tidak mengajarkan teknik pemingsanan sebelum penyembelihan. Dr. Hazim dan Prof. Dr. Schultz, staf ahli peternakan di Hannover University melakukan sebuah penelitian tentang cara penyembelihan hewan menurut syariat Islam dan cara orang Barat. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa penyembelihan menurut syariat Islam lebih baik dan meringankan bagi hewan yang disembelih.

Hasil penelitian mereka menunjukkan hal-hal sebagai berikut.
1. Pada tiga detik pertama setelah penyembelihan tidak ada indikasi rasa sakit yang ditunjukkan oleh hewan yang disembelih menurut syariat Islam.
2. Pada tiga detik berikutnya tercatat adanya penurunan grafik secara bertahap sehingga hewan tersebut kehilangan kesadaran.
3. Setelah enam detik pertama terlihat aktivitas jantung untuk menarik darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Oleh karena darah terpompa keluar tubuh secara maksimal, dihasilkan daging yang sehat (tidak tercemar oleh darah).
4. Hewan yang meronta-ronta ketika disembelih bukan ekspresi rasa sakit melainkan ekspresi keterkejutan otot dan saraf.

Dari hasil penelitian tersebut penyembelihan dengan cara pemingsanan menunjukkan hal-hal berikut.
1. Hewan yang disembelih dengan pemingsanan terlebih dahulu tidak mengeluarkan darah secara maksimal.
2. Setelah proses pemingsanan tercatat adanya rasa sakit pada hewan karena pemukulan pada saat pemingsanan.
3. Adanya peningkatan rasa sakit sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal.
4. Darah tidak keluar secara maksimal pada proses penyembelihan dengan pemingsanan sehingga darah membeku di dalam tubuh hewan.

Scroll to Top
Home Bisa Mulia