A. Pengertian Salat Sunah dan Keutamaannya

1. Pengertian Salat Sunah

Salat dalam Islam merupakan ibadah yang paling penting. Ibadah salat dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, disertai dengan doa dan gerakan-gerakan yang telah disyariatkan. Salat ada yang hukumnya wajib, yaitu salat lima waktu dan ada pula yang hukumnya sunah. Untuk salat sunah, berarti sangat utama jika dikerjakan, tetapi tidak menjadi keharusan.

Tata cara salat sunah pada umumnya sama dengan salat wajib, meskipun ada beberapa salat yang cara mengerjakannya terdapat perbedaan. Misalnya, dalam pelaksanaan salat id untuk takbir pertama dilakukan sebanyak tujuh kali dan lima takbir pada rakaat kedua. Niat salat sunah juga harus sesuai dengan salat yang hendak dikerjakan. Salat yang dilakukan secara beriringan, mungkin saja berlainan. Oleh karena itu, niat salat sangat menentukan pada jenis salat yang hendak dikerjakan. Perbedaan salat sunah lainnya dari salat wajib adalah dalam salat sunah kadang ditentukan oleh waktu, tujuan, atau alasan khusus untuk melaksanakannya. Contoh, salat istiska tujuannya adalah meminta hujan, salat tahiyatul masjid tujuannya untuk menghormati masjid, sedangkan salat istikharah tujuannya untuk menentukan pilihan yang sulit diambil. Demikian juga tujuan dan alasan yang berlaku untuk salat-salat sunah lainnya.

2. Tata Cara Salat Sunah

Salat sunah dapat dilakukan dengan dua cara, berjamaah atau munfarid. Untuk salat sunah berjamaah berarti harus ada imam dan makmum dengan syarat-syarat tertentu, sedangkan salat sunah munfarid cukup dikerjakan sendiri-sendiri.

Jika salat sunah dikerjakan secara berjamaah, harus memenuhi beberapa ketentuan sebagai berikut.

a. Ada Imam dan Makmum
Imam adalah orang yang memimpin jalannya salat berjamaah, sedangkan makmum adalah orang yang mengikuti salat imam. Posisi imam harus berada di depan makmum. Ketentuan lain untuk menjadi imam ataupun makmum, secara umum sama dengan persyaratan dalam salat wajib secara berjamaah.
Salat sunah dapat dilakukan dengan dua cara, berjamaah, dan munfarid.

b. Dalam Satu Tempat
Iman dan makmum harus dalam satu tempat mengerjakan salat sunah yang dimaksud. Tidak diperbolehkan antara imam dan makmumnya di tempat yang berlainan secara tuntunan syar’i.

c. Salat Sunahnya Sama

Antara imam dan makmum harus mengerjakan salat sunah yang sama. Dengan demikian, tidak sah jika niat atau ketentuan lainnya untuk salat sunah yang dilakukan imam berbeda dengan yang dimaksud makmum.

3. Keutamaan-Keutamaan Salat Sunah

Jika merujuk pada hadis-hadis Rasulullah, dijelaskan berbagai keutamaan mengerjakan salat sunah, baik yang dikerjakan secara berjamaah maupun munfarid. Keutamaan tersebut pantas diperoleh karena orang yang sedang mendirikan salat berarti ia sedang melakukan komunikasi secara langsung dengan Allah.

Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa orang yang sedang mengerjakan salat, berarti ia akan mendapatkan tiga macam (kebaikan), yaitu malaikat mengerumuninya sejak dari telapak kaki sampai ke atas langit, kebaikan turun kepadanya dari atas langit sampai atas kepalanya, dan malaikat yang berseru ”Seandainya orang yang sedang salat ini mengetahui dengan siapa ia berbicara (berkomunikasi), niscaya ia tidak akan mau berhenti (dari salatnya)”.

Salat sunah yang ketentuannya boleh dikerjakan secara munfarid ada yang lebih utama dikerjakan di rumah. Misalnya mengerjakan salat tahajud. Selain untuk menerangi rumah dengan amalan ibadah, menurut hadis dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah pernah bersabda, ”Salat sunah seseorang di dalam rumahnya itu lebih banyak pahalanya dibandingkan salat sunah di depan orang banyak, yaitu seperti keutamaan salat berjamaah atas salat sendirian”.

Hadis lain yang menjelaskan keutamaan mendirikan salat atau berzikir kepada Allah adalah yang disampaikan oleh Anas bin Malik r.a. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, ”Tidak ada suatu tempat yang dipergunakan untuk salat dan berzikir kepada Allah, melainkan tempat itu akan merasa gembira dengan yang demikian itu sampai ke dasar bumi yang ketujuh, lalu ia berbangga kepada tempat yang berada di sekitarnya. Dan tidak ada seorang hamba yang berada di tengah hutan yang bermaksud untuk mengerjakan salat, melainkan bumi akan berhias untuknya”.

Dengan keutamaan salat sunah sebagaimana disebutkan di atas menunjukkan pentingnya membiasakan mengerjakannya. Tata cara mengerjakannya tentu harus memperhatikan tuntunan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Salat sunah yang dapat dilakukan secara berjamaah antara lain:
a. salat id,
b. salat gerhana,
c. salat istiska,
d. salat tarawih, dan
e. salat witir.

Untuk salat gerhana, tarawih dan witir dapat dilakukan dengan cara berjamaah dan munfarid. Selain itu, ada pula salat sunah yang dikerjakan secara munfarid, misalnya:
a. salat rawatib,
b. salat duha,
c. salat tahajud (ada pendapat dibolehkan berjamaah),
d. salat tahiyatul masjid.

B. Ketentuan Salat Sunah Secara Berjamaah

Di depan telah disebutkan contoh-contoh salat sunah yang dilakukan secara berjamaah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Penjelasan lebih lanjut sebagai berikut.

1. Salat Id

a. Pengertian Salat Id
Setiap tanggal 1 Syawal kita merayakan hari raya Idul Fitri, demikian pula pada tanggal 10 Zulhijah kita merayakan hari raya Idul Adha. Pada kedua hari raya tersebut, kita disunahkan untuk mengerjakan salat sunah yang dikenal dengan nama salat sunah id.

(Sulaiman Rasyid, 1995: halaman 135) Melaksanakan salat id memiliki tujuan tertentu. Salat Idul Fitri dikerjakan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah dan menutup ibadah Ramadan. Salat sunah Idul Adha dimaksudkan sebagai bentuk syukur atas keberhasilan jamaah haji melaksanakan ibadah haji.

b. Ketentuan Pelaksanaan Salat Id
Salat id dikerjakan pada waktu duha, yaitu pada pagi hari setelah terbitnya matahari (lebih kurang setengah jam setelah terbitnya matahari) sampai sebelum zawal (tergelincir matahari/condong ke arah barat tanda masuknya waktu salat Zuhur).

Untuk tempat pelaksanaan salat id, di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat. Jumhur ulama berpendapat lebih utama dikerjakan di lapangan terbuka, kecuali jika ada halangan seperti hujan atau daerah tersebut tidak memiliki lapangan terbuka. Kalangan Mazhab Syafi’i berpendapat lain, yaitu lebih utama di masjid. Alasannya, di tempat tersebut lebih terhormat dan lebih bersih daripada lapangan terbuka, kecuali jika masjid tidak mampu menampung jamaah.

Terdapat perbedaan pendapat tentang tata cara pelaksanaan salat id, khususnya tentang jumlah takbirnya. Ada yang berpendapat tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, ada pula yang berpendapat enam kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua.

Untuk urutan tata cara pelaksanaan salatnya, sebagai berikut.
1) Berdiri menghadap kiblat.
2) Berniat melaksanakan salat id.
3) Takbiratul ihram.
4) Membaca doa iftitah.
5) Takbir, dilanjutkan dengan membaca Surah al-Fa-tih. ah [1] dan surah pilihan.
6) Rukuk.
7) Sujud.
8) Duduk di antara dua sujud.
9) Sujud.
10) Berdiri untuk rakaat kedua dan takbir dilanjutkan dengan gerakan seperti rakaat pertama.
11) Tasyahud.
12) Salam.
13) Mendengarkan khotbah.

Selain mengerjakan ketentuan salat id sesuai dengan syarat dan rukunnya, kita perlu mengerjakan amalan sunah, yaitu dengan memperbanyak takbir dan zikir sebelum salat, membersihkan anggota badan, membaca takbir sepanjang perjalanan menuju tempat salat, bersedekah kepada fakir miskin, dan melakukan syiar dengan memperlihatkan kegembiraan menyambut hari raya.

2. Salat Istiska

a. Pengertian Salat Istiska
Salat istiska dilakukan ketika umat muslim dilanda kekeringan sebagai bentuk pengharapan pada turunnya hujan. Menurut jumhur ulama, hukum melaksanakan salat istiska adalah sunah muakkad. Berkaitan dengan salat istiska terdapat hadis Rasulullah yang artinya: Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: ”Bahwasanya Rasulullah saw. beristiska, lalu beliau mengisyaratkan kedua telapak tangannya ke langit.” (H.R. Muslim)

b. Ketentuan Pelaksanaan
Salat istiska dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah di lapangan terbuka, tanpa azan dan iqamah. Menurut jumhur ulama, bacaan dalam salat istiska adalah jahr (dibaca dengan suara keras) seperti salat id. Untuk waktu pelaksanaan salat istiska tidak ada ketetapannya. Salat istiska boleh dilaksanakan kapan pun, kecuali pada waktu tidak dibolehkan melaksanakan salat, seperti waktu terbitnya matahari, waktu matahari di tengah-tengah langit, dan waktu terbenamnya matahari.

Tentang cara pelaksanaan salat istiska, jumhur ulama berpendapat harus secara berjamaah dengan dua kali khotbah sebelum salat dikerjakan. Ada beberapa hal yang dianjurkan dalam pelaksanaan salat istiska, yaitu sebagai berikut.
1) Jamaah dianjurkan untuk bertobat dari segala perbuatan tercela yang telah mereka lakukan. Jamaah juga dianjurkan agar 160 Pendidikan Agama Islam Kelas IX senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan berbagai amal kebajikan.
2) Imam bersama-sama jamaah menuju lapangan terbuka untuk melaksanakan salat tersebut selama tiga hari berturut-turut.
3) Jamaah yang akan melaksanakan salat istiska tersebut sebelumnya dianjurkan membersihkan jasmani, seperti memotong kuku dan menggosok gigi.
4) Rombongan jamaah agar berjalan dengan penuh tunduk dan khusyuk serta memakai pakaian yang sederhana.
5) Salat istiska dilaksanakan di lapangan terbuka.
6) Berdoa dan meminta ampun kepada Allah sebanyak-banyaknya.
7) Jika petir telah muncul, seluruh jamaah dianjurkan bertasbih.
8) Dianjurkan mengajak seluruh ulama dan cendekiawan yang ada di daerah tersebut untuk melaksanakan salat istiska.
(Sulaiman Rasyid, 1995: halaman 141–142)

3. Salat Gerhana

a. Pengertian Salat Gerhana
Salat khusuf yaitu salat yang dianjurkan kepada umat Islam ketika terjadinya gerhana bulan. Salat kusuf yaitu salat yang dianjurkan untuk dilaksanakan ketika terjadinya gerhana matahari. Salat ini perlu dikerjakan untuk menunjukkan kebesaran Allah dan lemahnya manusia di hadapan-Nya.

Hukum salat gerhana adalah sunah muakkad. Salat gerhana matahari dan bulan dianjurkan untuk dilaksanakan oleh seluruh umat Islam, baik dalam keadaan bermukim maupun ketika dalam perjalanan, baik laki-laki maupun perempuan. Waktu pelaksanaan salat gerhana matahari maupun gerhana bulan adalah ketika terjadinya gerhana tersebut.

b. Ketentuan Pelaksanaan
Salat Gerhana
Terdapat perbedaan pendapat ulama berkaitan dengan tata cara pelaksanaan salat gerhana. Menurut jumhur ulama, salat gerhana dilaksanakan dua rakaat dan pada setiap rakaat dua kali berdiri, dua kali rukuk, dua kali membaca ayat, dan dua kali sujud.

Tata urutan pelaksanaan salat gerhana sebagai berikut.
1) Salat khusuf dilaksanakan sebanyak dua rakaat.
2) Berniat mengerjakan salat khusuf.
3) Berdiri dan melakukan takbiratul ihram.
4) Membaca doa iftitah dilanjutkan Surah al-Fa-tih. ah [1].
5) Membaca ayat-ayat Al-Quran, lebih utama yang jumlah ayatnya panjang.
6) Rukuk dengan waktu yang hampir sama dengan waktu berdirinya.
7) Berdiri kembali dengan membaca Surah al-Fa – tih. ah [1] dan surah Al-Qur’an yang lebih pendek dibandingkan dengan berdiri yang pertama.
8) Rukuk dengan waktu yang hampir sama dengan ketika berdiri.
9) Iktidal.
10) Sujud.
11) Duduk di antara dua sujud.
12) Kembali berdiri untuk melaksanakan rakaat kedua.
13) Untuk rakaat kedua sama seperti pada rakaat pertama, dilanjutkan dengan tasyahud dan mengucapkan salam. (Sulaiman Rasyid, 1995: halaman 138–140)

C. Salat Sunah Secara Munfarid

Salat sunah selain dilakukan secara berjamaah, ada pula yang dikerjakan secara munfarid. Salat sunah yang dapat dikerjakan secara munfarid banyak macamnya. Contoh yang biasa kalian kerjakan adalah salat sunah rawatib, tahiyatul masjid, tahajud, dan witir. Akan tetapi, yang dibahas pada bab ini adalah salat sunah tahajud dan istikharah.

1. Salat Tahajud

a. Pengertian Salat Tahajud
Secara bahasa, tahajud artinya bangun dari tidur pada malam hari. Dengan demikian, salat tahajud dapat diartikan dengan salat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari hingga menjelang subuh. Salat tahajud juga disebut dengan sala-tul-lail (salat malam) atau qiya-mul-lail (melaksanakan salat malam).

Hukum salat tahajud adalah sunah muakkad, yaitu sunah yang sangat penting untuk dikerjakan oleh umat muslim. Dalil yang menjelaskan tentang perintah salat tahajud sebagaimana disebutkan pada ayat dan hadis yang berbunyi sebagai berikut:

Wa minal-laili fatahajjad bihi- na-filatal-laka ‘asa- ay yab‘as.aka rabbuka maqa – mam mah. mu-da-(n).

Artinya: Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (Q.S. al-Isra – ’ [17]: 79)

Artinya: Dari Bilal, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: ”Biasakanlah sembahyang malam sebab ia kebiasaan orang-orang s. a – lihi-n yang sebelummu, dan sesungguhnya sembahyang malam itu mendekatkan kamu kepada Allah, mencegah kamu dari dosa, menebus dosa-dosa, dan mengusir penyakit dari badan. (H.R. Tirmiz . i-)

Salat tahajud lebih utama jika dikerjakan pada sepertiga malam terakhir. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Abu Hurairah yang artinya: ”Allah pada setiap malam turun ke langit dunia, ketika sampai pada sepertiga akhir malam Allah berfirman, ’Barang siapa berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya, barang siapa yang meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni.” (H.R. Jamaah)

Oleh karena pentingnya salat ini, Rasulullah selalu membiasakan diri mengerjakan salat tahajud setiap malam. Bahkan, Rasulullah mengerjakannya sangat lama sampai-sampai kakinya bengkak karena lamanya berdiri.

b. Ketentuan Salat Tahajud

Untuk jumlah rakaat salat tahajud, tidak ada batasannya. Ada yang berpendapat tiga belas rakaat, dengan tiga rakaat di antaranya adalah salat witir. Ada pula yang mengatakan sebelas rakaat, tiga rakaat di antaranya witir. Jumlah rakaat salat tahajud boleh berapa saja banyaknya. Bahkan, dibolehkan juga dengan mengerjakan hanya dua rakaat dan satu witir.

Untuk tempat mengerjakannya, disunahkan dilakukan di rumah. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw. yang artinya: ”Seyogyanya kamu melakukan salat (sunah) di rumahmu. Sesungguhnya sebaikbaik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat fardu.”(H.R. Muslim)

Tata cara pelaksanaan salat tahajud sebagai berikut.
1) Membersihkan diri sehabis tidur dan berwudu.
2) Berniat salat tahajud. Jika niatnya dilafalkan, misalnya berbunyi sebagai berikut.

Artinya: Sengaja aku salat tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala.
3) Bacaan salat tahajud boleh nyaring dan boleh perlahan.
4) Salat tahajud dengan dua rakaat sekali salam.
5) Apabila sudah merasa cukup rakaatnya (8 atau 10 rakaat), kemudian diakhiri dengan salat witir tiga rakaat.
6) Diakhiri dengan berzikir dan berdoa.

c. Penyempurnaan Salat Tahajud

Agar ibadah salat tahajud lebih sempurna, kita perlu melakukan beberapa hal berikut ini.
1) Mulai berniat untuk salat tahajud semenjak sebelum tidur. Dengan cara ini, jika kita ternyata tidak terjaga hingga memasuki waktu subuh, niat tersebut sudah dicatat Allah Swt. sebagai sebuah kebaikan.
2) Membersihkan muka dan bersiwak (menggosok gigi) serta berwudu.
3) Berzikir dan membaca Al-Qur’an.
4) Memulai salat tahajud dengan salat dua rakaat yang ringan (salat iftita – h. ).
5) Memperpanjang bacaan salat termasuk rukuk dan sujudnya.
6) Tidur sebelum salat dan jika masih mengantuk, dibolehkan menunda salat hingga hilang kantuknya.
7) Mengajak keluarga untuk bersama-sama salat tahajud.
8) Melakukan salat tahajud setiap hari.

2. Salat Istikha-rah

a. Pengertian Salat Istikharah

Secara bahasa, kata istikharah berasal dari bahasa Arab yang bermakna meminta atau memohon sesuatu yang lebih baik. Dengan demikian, secara istilah dapat diartikan dengan salat sunah dua rakaat yang diiringi dengan doa tertentu, untuk memohon petunjuk yang baik kepada Allah terhadap rencana yang masih ragu untuk diputuskan.

Setelah melakukan salat istikha-rah dan berdoa, petunjuk Allah Swt. biasanya diperoleh melalui mimpi tentang pilihan melakukan pekerjaan atau kepentingan yang terbaik. Pekerjaan atau kepentingan tersebut bisa bersifat pribadi maupun umum.

Hukum melakukan salat istikharah adalah sunah. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah berbunyi:

Artinya: Dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata: Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami cara salat istikharah dalam beberapa urusan, seluruhnya sebagaimana kami ingin mengetahui surah Al- Qur’an, beliau bersabda: ”Apabila di antara kamu sekalian mempunyai maksud dalam suatu urusan, maka hendaklah ia salat dua rakaat selain salat fardu . . . .” (H.R. Bukha-ri-). 

Dalam hadis riwayat lain, pada akhir hadisnya menggunakan redaksi yang berbeda, yaitu, ”Maka hendaklah dia melakukan salat dua rakaat, selain salat fardu.

b. Ketentuan Salat Istikharah

Tata cara pelaksanaan salat istikharah sama dengan salat-salat yang lain. Jumhur ulama berpendapat bahwa jumlah rakaat salat istikharah ada dua, tetapi menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dibolehkan lebih dari dua rakaat dengan salam setiap dua rakaat. Untuk bacaan surah yang dipilih, dianjurkan pada rakaat pertama setelah membaca Surah al-Fa – tih. ah [1] diteruskan membaca Surah al-Ka-firu-n [109]. Sedangkan untuk rakaat kedua membaca Surah al-Ikhla-s. [112]. Ibnu Hajar al-Asqalani berpendapat lain, yaitu setelah membaca Surah al-Ka – firu-n [109] pada rakaat pertama dilanjutkan dengan Surah al-Qas. as. [28] ayat 68 dan setelah membaca Surah al-Ikhla-s. [112] pada rakaat kedua dilanjutkan dengan membaca Surah al-Ah. za-b [33] ayat 36.

Tata cara melakukan salat istikharah secara ringkas sebagai berikut.
1) Bersuci atau berwudu.
2) Berniat salat istikharah dua rakaat. Niat salat istikharah jika dilafalkan sebagai berikut.

Artinya: Sengaja aku salat istikharah dua rakaat karena Allah Ta’ala.
3) Setelah membaca Surah al-Fa- tih. ah [1] pada rakaat pertama, dilanjutkan dengan membaca Surah al-Ka – firu-n [109]. Setelah membaca Surah al-Fa – tih. ah [1] pada rakaat kedua, dilanjutkan membaca Surah al-Ikhla – s. [112].
4) Setelah selesai salat kemudian membaca doa istikharah. Bacaan doa istikharah sangat khusus dan berpadu dengan salatnya, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bacaan doanya berbunyi sebagai berikut.

Artinya: Ya Allah, sungguh aku memohon petunjuk yang baik kepada- Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kemampuan kepada-Mu dari kekuasaan-Mu, aku memohon anugerah-Mu yang agung, karena hanya Engkaulah yang kuasa sementara aku lemah, Engkaulah Yang Mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (disebutkan perkara atau urusan apa) baik bagiku di dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan hidupku (dalam urusan dunia dan akhiratku), maka jadikanlah aku mampu untuk melaksanakannya, mudahkanlah ia bagiku, dan berkatilah aku di dalamnya. Jika Engkau mengetahui bahwa urusan itu buruk bagiku di dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan hidupku (dalam urusan dunia dan akhiratku), maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Jadikanlah kebaikan itu bagiku di mana pun, kemudian jadikanlah aku rida kepadanya.

Agar pelaksanaan salat istikharah bisa lebih sempurna, perlu dilengkapi dengan melakukan hal-hal sebagai berikut.
1) Waktu mengerjakannya sebaiknya dalam suasana hening dan sunyi, misalnya pada malam hari sebelum tidur atau pada sepertiga malam yang terakhir.
2) Berdoa harus dilakukan dengan benar-benar khusyuk, karena biasanya setelah doa selesai dibaca, dapat dirasakan sesuatu yang pertama kali masuk ke hati (semacam isyarat kebaikan).
3) Setelah salat dan berdoa, sebaiknya langsung tidur dengan keadaan yang masih suci (tidak batal wudu) dan tidur dengan menghadap kiblat.

Amali
Setelah kalian mempelajari ketentuan salat sunah, baik yang dilakukan secara berjamaah maupun munfarid, perlu membiasakan hal-hal berikut ini.
1. Menyempurnakan ibadah salat wajib lima waktu dalam sehari dengan memperhatikan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.
2. Mengerjakan salat wajib dan sunah karena ikhlas mengharapkan rida dari Allah Swt.
3. Mengerjakan salat wajib dan sunah secara khusyuk.
4. Mengerjakan salat sunah yang paling ringan dahulu, seperti salat sunah rawatib.
5. Membuat target dalam mengerjakan salat sunah.
6. Membiasakan mengerjakan salat sunah dalam keadaan apa pun.
7. Memperbanyak berzikir dan berdoa kepada Allah setelah salat.

Ikhtisar
1. Ibadah salat dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, disertai dengan doa dan gerakan-gerakan tertentu. Salat ada dua macam, salat wajib lima waktu dan salat sunah.
2. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa orang yang sedang mengerjakan salat, berarti ia akan mendapatkan tiga macam (kebaikan).
3. Salat sunah ada yang dapat dilakukan secara berjamaah maupun secara munfarid.
4. Salat id dikerjakan pada waktu duha, yaitu pada pagi hari setelah terbitnya matahari hingga sebelum zawal.
5. Salat istiska dilakukan ketika umat muslim dilanda kekeringan untuk mengharapkan turunnya hujan.
6. Salat gerhana/ salat khusuf dianjurkan kepada umat Islam ketika terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan.
7. Salat tahajud artinya salat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari hingga menjelang subuh. Salat tahajud juga disebut dengan salatullail (salat malam) atau qiyamullail (melaksanakan salat malam).
8. Salat istikharah adalahsalat sunah dua rakaat yang diiringi dengan doa tertentu, untuk memohon petunjuk yang baik kepada Allah terhadap rencana yang masih ragu untuk diputuskan.

Muhasabah
Salah satu rukun Islam yang sangat penting untuk dikerjakan oleh setiap muslim adalah salat. Bahkan, dalam salah satu hadis Rasulullah dijelaskan bahwa tegak tidaknya agama Islam tergantung pada kemampuan umatnya dalam menjalankan salat. Sebagai ibadah yang sangat penting, selain salat wajib, ada juga salat-salat sunah. Salah-salat sunah perlu kita kerjakan sebagai penyempurna dari salat-salat wajib kita.

Khutbah, Tablig, dan Dakwah

A. Pengertian Khutbah, Tablig dan Dakwah

Kata khutbah berasal dari bahasa arab “khutbah” dari kata dasar masdar dan dari kata kerja yang artinya pidato atau ceramah. Sampai saat ini, makna yang melekat dari kata khutbah itu adalah pidato yang berisi tentang keagamaan. Oleh karena itu, kegiatan khutbah itu seringkali hanya ditujukan kepada mereka yang sedang membacakan pidato keagamaan pada hari Jum’at, atau idul-fitri dan idul adha. Padahal, pidato yang di luar kegiatan agama atau yang berisikan tentang agama pun dapat dikatakan sebagai kegiatan khutbah.

Karena kata khutbah mengandung arti pidato atau ceramah.

Khutbah yang disyari’atkan dalam Islam, yaitu khutbah jumat, khutbah, idul adha, khutbah idul fitri, khutbah pada salat istisqa (salat minta hujan), khutbah nikah dan khutbah tatkala wuquf di ‘Arafah. Dari sejumlah jenis khutbah yang ada, hal yang paling penting diketahui yaitu mengenai khutbah jumat. Karena memang, khutbah Jumat itu memerlukan rukun yang harus terpenuhi, agar bisa sah secara aturan. Bilamana salah satu rukun itu tidak terpenuhi, maka khutbah tidak sah.

Yang paling pokok untuk diketahui bahwa khutbah Jumat itu terdiri dari dua bagian. Yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua, di mana keduanya dipisahkan dengan duduk di antara dua khurbah. Selain itu yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa khutbah Jumat itu dilakukan sebelum shalat Jumat.

Berbeda dengan khurtbah Idul fitri atau Idul Adha yang justru dilantunkan setelah selesai shalat Id.

Kata tablig berasal dari kata kerja yaitu ballaga yuballigu yang artinya menyampaikan. Sifat tabligh ini merupakan salah satu dari sifat-sifat rasul, yang mengandung makna bahwa rasul Allah senantiasa menyampaikan syari’at yang diwahyukan Allah Swt., kepada umatnya.

Terjemahan

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (Qs. Al-Maidah : 67)

Sedangkan kata Dakwah secara bahasa berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata dasar masdar dan kata kerja da’a-yad’u yang artinya memanggil, menyeru atau mengajak. Seperti yang digunakan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125.

Terjemahan

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. An-Nahl : 125)

Pada ayat tersebut, kata ud’u mengandung makna menyeru. Dengan kata lain, makna dakwah dapat diartikan sebagai kegiatan manusia dalam menyeru orang lain mengenai sesuatu hal. Kendati demikian, kata “dakwah” secara kebahasaan yaitu kegiatan yang bersifat menyeru dan memanggil orang untuk beriman kepada Allah Swt. untuk taat kepada-Nya sehingga dapat meraih kebahagiaan dan kesehteraan di dunia maupun akhirat. Orang laki-laki yang melaksanakan tabligh disebut mubalig sedangkan bagi perempuan disebut mubaligah. Sedangkan orang yang menyampaikan dakwah disebut da’i atau juru dakwah.

Pada awalnya kegiatan bertablig dan berdakwah merupakan kewajiban Nabi Muhammad saw, yang kemudian menjadi kewajiban muslim dan muslimah sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki yang telah dimulai dari generasi sahabat seterusnya hingga akhir zaman.

Bertablig dan berdakwah dilakukan tanpa paksaan karena bertujuan memberikan petunjuk kepada umat yang merupakan seruan dakwah kepada Allah Swt.

Pada zaman Nabi Muhammad saw., pelaksanaan dakwah dilaksanakan dalam dua bentuk, yaitu ada dakwah yang terbuka dan ada dakwah yang dilaksanakan secara tertutup. Setelah dinyatakan diangkat menjadi Rasul, Muhammad bin Abdullah melaksanakan dakwah secara tertutup (sirri). Hal ini terkait dengan masalah keamanan dan keadaan lingkungan hidup Nabi yang belum menunjukkan sikap yang ramah. Pada tahap ini disebut pula sebagai tahap dakwah afrad, yaitu menyeru kepada ajaran Islam dengan cara mendatangi orang perorang. Kemudian, rasulullah melaksanakan cara yang kedua yaitu melaksanakan dakwah secara terbuka.

Menurut Al-Qur’an Surah An-Nahl : 125, ada tiga metode dalam berdakwah. Pertama, menggunakan metode hikmah. Menurut tafsiran Departemen Agama, istilah hikmah ini mengandung makna “perkataan yang tegas dan jelas dalam membedakan antara haq dan batil”. Metode hikmah pun dapat diartikan sebagai metode yang lebih mengutamakan keteladan dan kearifan yang luas. Kedua, mauizah artinya melalui pendidikan dan pembelajaran. Serta ketiga yaitu mujadalah atau berdebat atau diskusi.

B. Ketentuan Khutbah, Tabligh, dan Dakwah

1. Ketentuan Khutbah Jumat

a. Khutbah jumat

Khutbah jumat dilakukan sebelum salat jumat. Seperti yang dicontohkan Rasullullah khutbah jumat merupakan berita gembira kepada orang yang bertakwa dan kabar duka bagi orang yang durhaka. Supaya tujuan mulia dari khutbah tercapai maka seorang khatib hendaknya memiliki syarat sebagai berikut :

o Memahami tentang ajaran Islam atau tema yang akan disampaikan di mimbar.

o Memahami dan mengetahui betul mengenai syarat, rukun dan sunahnya khutbah.

o Mampu melafalkan syahadat, salawat, Al-Qur’an dan hadis secara baik dan benar.

o Sudah baligh dan berakhlak baik.

o Dipandang sebagai orang terhormat dan disegani

b. Syarat-syarat dua khutbah jumat

Syarat dua kutbah sebagai berikut :

o Suci dari hadas dan najis.

o Khutbah dilaksanakan sesudah matahari tergelencir

o Khatib hendaknya berdiri jika mampu

o Khatib hendaknya duduk diantara dua khutbah

o Diucapkan dengan suara yang keras supaya terdengar

o Tertib dan baik dalam rukun-rukunnya

c. Rukun khutbah

Khutbah memenuhi rukun-rukunnya sebagai berikut :

o Mengucap hamdalah dan puji-pujian kepada Allah Swt. Khutbah jumat itu wajib dimulai dengan hamdalah, yaitu lafaz yang memuji Allah Swt.
Misalnya lafaz alhamdulillah, atau innalhamda lillaah. Pendeknya, minimal ada kata alhamd dan lafaz Allah, baik di khutbah pertama atau khutbah kedua.

o Membaca syahadat tauhid dan syahadat rasul. Misalnya dengan kalimat, “asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhμ wa rasμluh.

o Membaca salawat Nabi Muhammad Swt., misalnya “Allahuma salli ‘ala Muhammad wa ala ali sayidana Muhammad

o Berwasiat memberi nasehat untuk menyampaikan ajaran tentang akidah, ibadah, akhlak, muamalah yang bersumber dari allah Swt.

o Membaca ayat Al–Qur’an pada salah satu dua khutbah.

o Pada bagian akhir, khatib harus mengucapkan lafaz doa yang intinya meminta kepada Allah kebaikan untuk umat Islam. Misalnya kalimat:
Allahummagfir lil muslimin wal muslimat (Ya Allah, ampunilah orang-orang muslim laki dan wanita). Atau kalimat Allahumma ajirna minannar (Ya Allah, selamatkan kami dari api neraka).

d. Sunnah khutbah jumat

o Sunah Khutbah jumat sebagai berikut :

o Khatib berdiri diatas mimbar sebelah kanan tempat berdiri imam salat

o Mengawali khutbahnya dengan memberikan salam

o Khutbah hendaknya jelah, mudah dipahami, tidak telalu panjang atau pendek.

o Berkhutbah menghadap kepada jamaah khutbah

o Menertibkan tiga rukun yaitu puji-pujian, salawat dan nasihat.

o Membaca Al Ikhlas ketika duduk diantara dua khutbah

o Membaca ayat Al-Qur’an pada salah satu dua khutbah.

e. Mendengarkan khutbah.

Khutbah jumat merupakan syarat sahnya pelaksanaan salat jumat. Dan jamaah jumat hendaknya mendengarkan dengan sebaik – baiknya. Jika ada seseorang dari jamaah jumat yang berbicara maka khatib berhak untuk menegurnya tanpa membuat suasana berkhutbah menjadi ramai.

2. Ketentuan Tablig dan Dakwah

Setiap muslim hendaknya melukan khutbah jumat sesuai dengan ketentuan cara bersdakwah yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Kewjiban berdakwah sebagai berikut :

a. Tablig atau berdakwah dimulai dari diri mubalig atau da’i.

b. Mubalig atau da’i hendaknya menggunakan pola kebijaksanaan menurut kadar kemampuan akal mereka.

c. Dakwah dapat dilakukan melalui perbuatan baik yang diridhai Allah Swt.

d. Dakwah dilaksanakan dengan ucapan lisan dan tulisan baik secara perorangan maupun kumpulan dengan metode yang digunakan seperti metode al-Hikmah yang artinya menyampaikan dengan mengetahui tujuan dan sasaran dakwahnya, metode al-mauizah al-hasanah artinya memberi kepuasan kepada orang yang menjadi sasarannya., dan metode “ Mujadallah bi al-lati hiya ahsan artinya bertukar pikiran atau berdiskusi dengan cara – cara terbaik.

C. Cara menyusun Teks Khutbah Jum’at dan Dakwah

Ada lima tahap atau langkah yang dapat dilakukan dalam menyusun teks khutbah atau dakwah.

Pertama Menentukan Tujuan.
Setiap khutbah atau dakwah harus memiliki tujuan yang ingin disampaikan.
Dengan tujuan tersebut, kemudian seorang khatib atau da’i akan dapat menyampai pesannya secara terarah dan lebih efektif. Ada tiga jenis tujuan dari khutbah atau dakwah. Pertama, khutbah yang lebih menekankan pada aspek informasi (to increasi knowledge). Sambutan ini, merupakan paparan yang berisi pemahaman si pembicara yang disampaikan kepada pendengar (mustami’) sehingga pengetahuan atau wawasan para pendengar bertambah. Kedua, khutbah atau dakhwah yang mengandung makna hiburan (entertain). Pada masa sekarang banyak juru dakwah yang kerap memadukan tujuan dakwah dengan menghibur. Ketiga, yaitu khutbah yang bersifat mempengaruhi dengan tujuan supaya melakukan sesuatu sebagaimana yang diinginkan oleh khatib atau da’i. Sifat dari khutbah yang ketiga ini, kadang memberikan penjelasan yang bisa memperkuat keimanan, mengoreksi pemahaman dan perilaku ibadah dan atau menganjurkan amalan tertentu.

Berdasarkan tahap ini, maka seseorang yang akan berkhutbah diharapkan dapat menentukan tujuan yang akan disampaikan dalam khutbah tersebut. Misalnya “Saya merencanakan untuk menyampaikan mengenai pentingnya sodaqoh”, atau “Saya merencanakan untuk membuat teks khutbah tentang generasi muda Islam yang berakhlakul karimah”.

Kedua Menentukan Topik.
Setelah memiliki tujuan yang jelas dan tegas mengenai rencana penulisan sambutan tersebut, tahap berikutnya yaitu menentukan topik. Penentuan topik ini, mulai dari skala umum kemudian sampai pada topik khusus yang akan dikembangkan dalam teks khutbah.

Dalam menyusun topik ini, harus diperhatikan aspek-aspek berikut :

a. Kelompok pendengar (mustami’ atau audiens). Khutbah atau dakwah di depan anak remaja memiliki kebutuhan akan topik pembahasan yang berbeda dengan mustami’ yang berasal dari kelompok kalangan dewasa.
b. Kepentingan dan kemampuan. Seseorang yang akan menyampaikan khutbah jangan memaksakan diri untuk menyampaikan materi yang tidak dikuasainya. Perhatikan kemampuan dan kepentingan kita dalam menyampaikan masalah kepada umat.

c. Timing. Khutbah atau dakwah yang baik yaitu sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan umat saat itu. Oleh karena lamanya waktu, keaktualan bahasan merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan.

Ketiga Menentukan Outline.
Setelah topik ditemukan kemudian buatkan garis besar yang akan disampaikan kepada jama’ah.

Keempat Memilih Kata.
Setiap kata yang digunakan harus jelas dan tidak boleh menimbulkan arti ganda yang dapat menyebabkan salah pengertian para pendengar. Oleh karena itu, perlu diperhatikan masalah sebagai berikut:

a. Gunakan istilah yang umum.

b. Gunakan kata-kata yang sederhana.

c. Berhemat dalam penggunaan kata-kata.

a. Hati-hati dalam menggunakan istilah serapan.

b. Hindari istilah vulgar atau yang tidak sopan.

c. Jangan menggunakan kata penjulukan (name calling)

d. Jangan menggunakan eufimisme berlebihan.

Selain itu, kata-kata yang digunakan harus menarik perhatian mustami’ atau jama’ah, sehingga mampu menarik minat dan mau memfokuskan perhatiannya. Oleh karena itu, perlu diperhatikan tentang :

a. Pilihlah kata yang menyentuh langsung diri khalayak .

b. Gunakan kata yang berrona, atau memberikan asosiasi mengenai sikap dan perasaan.

c. Gunakan bahasa figuratif, yaitu istilah yang mampu memberikan kesan yang indah.

d. Gunakan kata-kata tindak (action). Misalnya kata : diharapkan, dihimbau, kita harus.

KelimaMerumuskan Pembukaan.
Banyak orang yang sering mengatakan bahwa hal yang paling sulit itu adalah membuat kalimat pembuka. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menyusun kalimat pembuka dalam khutbah atau dakwah. :

a. Dalam agama Islam, pembukaan khutbah atau dakwah harus diawali dengan basmalah, shahadat, sholawat dan ajakan untuk meningkatkan keimanan kepada Allah Swt. Contoh, “Alhamdulillah segala puji kita panjatkan Kehadirat Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan hidayah-Nya, pada hari ini kita bisa hadir di sini dalam rangka melaksanakan sholat jum’at.”

b. Setelah membaca hal-hal yang dikemukakan pada bagian (a) pembukaan khutbah dapat dilakukan dengan cara merujuk pada tempat dilaksanakan kegiatan. Misalanya, “Hadirin yang berbahagia. Saya merasa senang bisa berbicara di hadapan saudara-saudara di sini. Satu sisi, saya senang karena diberi kesempatan untuk bisa bershilaturahmi, dan pada sisi yang lain, saya dapat mengenang kembali masjid ini, ruang yang dulu sempat saya gunakan untuk belajar. Benar, sekitar 10 tahun yang lalu, saya belajar di sini, tentang keanekaragaman kebiasaan yang unik yang ada di lingkungan pesantren “

c. Merujuk pada pekerjaan, tugas atau profesi ketika berbicara. Misalnya, “Pada saat ini, kami dari DKM I’anatuthalibin akan menyelenggarakan kegiatan Pesantren kilat. Sehubungan dengan hal ini, kami menyampai informasi sekaligus ajakan……

d. Bila kita berdakwah dalam acara tertentu, maka membuka dakwah dapat dilakukan dengan cara merujuk pada tema secara langsung. Misalnya, “Tema pertemuan kali ini, adalah membangun ukhuwwah di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, tema dakwah yang akan saya sampaikan dalam kesempatan ini yakni tidak jauh dari masalah pentingnya ukhuwwah…..”

e. Mengawali khutbah dengan sebuah kisah,baik dari riwayat nabi, shahabat atau pengalaman dirinya sendiri.

f. Menggunakan yel, pekik atau sapaan yang familiar di masyarakat Indonesia. Misalnya saja, kalimat “Allahu Akbar”.

Keenam Menyampaikan kesimpulan dan saran.
Khutbah atau dakwah bertujuan untuk memperbaiki keadaan. Oleh karena itu, khutbah yang baik bukan mencela atau memaki-maki, melainkan mengemukakan mengenai cara atau pemecahan masalah terhadap apa yang sudah dibahasnya. Dalam menutup sambutan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

a. Menutup dengan doa. Model ini merupakan bentuk baku yang dianjurkan dalam ajaran Islam.

b. Pada jaman perjuangan, para elit politik Indonesia, dalam mengakhir sambutannya kerap menggunakan yel-yel atau pekik kemerdekaan yang dapat menumbuhkan semangat juang. Misalnya dengan kalimat, “MERDEKA !!!!. terima kasih, wasssalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”.

c. Menutup dakwah dengan hadits atau ayat al-qur’an yang dapat dijadikan bahan tafakur.

Refleksi

Islam dapat berkembang dengan baik dan pesat ke berbagai penjuru dunia adalah akibat dari adanya dakwah atau tabligh. Melalui kegiatan ini, seorang muslim menyampai pesan agama kepada pihak lain yang ditemuinya. Secara umum, tidak ada syarat dan rukun yang khusus dalam menyampaikan dakwah atau tabligh. Rasulullah Muhammad saw pun berpesan, sampaikanlah (tablig) kepada orang lain walaupun hanya satu ayat. Pesan ini mengandung makna bahwa tabligh dan dakwah adalah kewajiban moral seorang muslim terhadap sesama muslim.

Berbeda dengan tablig dan dakwah, khutbah merupakan salah satu amalan yang memiliki syarat dan rukun. Pelaksanaan khutbah ini, biasanya dilaksanakan pada hari jum’at atau waktu sholat hari raya. Dalam kegiatan khutbah ada syarat dan rukun tertentu sehingga seseorang dapat dikatakan melaksanakan khutbah dengan benar menurut ajaran Islam.

Rangkuman

Sesuai dengan makna katanya, istilah tabligh mengandung makna menyampaikan pesan. Seseorang yang menyampaikan pesan disebut mubaligh (laki-laki), atau mubaligah (perempuan).

Khutbah adalah menyampaikan pesan dari mimbar resmi. Biasanya dilaksanakan pada waktu salat jum’at, atau salat hari raya.

Khutbah memiliki syarat dan rukun tersendiri. Aturan ini agak berbeda dengan pelaksanaan tablig atau dakwah.

Dakwah adalah menyampaikan pesan, dapat dilakukan secara perorangan dan dapat dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan dakwah lebih leluasa dibandingkan dengan khutbah.

Pada umumnya, setiap muslim memiliki kewajiban untuk berdakwah.

Perawatan Jenazah

A. Takziah dan Ziarah Kubur

1. Takziah

Takziah adalah salah satu kewajiban seorang muslim terhadap orang yang meninggal. Bahkan, Rasulullah Muhammad saw menyebutnya sebagai salah satu hak bagi orang yang meninggal dunia. Artinya, ketika ada seseorang yang meninggal dunia, jenazah tersebut masih memiliki hak untuk mendapat penghormatan dari orang yang masih hidup.

Rasulullah Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya milik Allah-lah apa yang telah Dia ambil dan milik-Nya jua apa yang Dia berikan; dan segala sesuatu di sisi-Nya sudah ditetapkan ajalnya. Maka hendaklah kamu bersabar dan mengharap pahala dari-Nya” (HR. Muttafaq ’alaih). Sabda ini selaras dengan tujuan utama dari takziah kepada orang yang baru ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia yaitu untuk mengingatkan tentang hak Allah dan pentingnya seorang muslim untuk bersabar dalam menghadapi segala musibah.

Terjemahan:

Dari Abu Hurairah r.a, berkata, saya mendengar rasulullah SAW bersabda kewajiban antara sesama muslim itu ada lima, yaitu menjawab salam, menengok orang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin

Dalam ajaran Islam, kebiasaan seorang muslim mengunjungi orang yang meninggal dunia ini disebut takziah. Dengan kata lain, takziah adalah berkunjung kepada keluarga yang meninggal dunia. Kewajiban untuk mengunjungi keluarga yang mengalami “musibah” kematian adalah sunah.

Lanjutkan membaca “Perawatan Jenazah”