Menghargai Hasil Karya Orang Lain

A. Makna Karya

Ada peribahasa, ’harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan jasa”. Peribahasa ini menunjukkan bahwa salah satu ukuran manusia hidup di dunia adalah karya nyata yang diberikan kepada hidup dan kehidupan masyarakat. Semakin besar jasanya, semakin besar pula peluang untuk dikenang oleh masyarakat.

Untuk meninggalkan kesan dan jasa itu, maka setiap manusia menunjukkan karya-karya nyata dalam kehidupan. Dalam bahasa Indonesia, istilah “karya” dapat diartikan ’buah kerja” dari manusia. Dengan kecerdasannya, manusia bisa melahirkan banyak karya. Orang yang berbakat bermain musik melahirkan karya musik, orang yang ahli dalam menulis melahirkan karya tulis, orang yang ahli dalam melukis melahirkan lukisan, orang yang ahli dalam mematang atau memahat melahirkan karya arsiktur, dan masih banyak lagi.

Dengan demikian, dalam kehidupannya seorang muslim dapat berkarya sesuai dengan minat, bakat, hobi dan atau kemampuannya.

Karena ada perbedaan kemampuan atau minat-bakat, sudah tentu akan mengasilkan perbedaan hasil karya.

Orang yang sudah terlatih, akan berbeda hasil karyanya dengan mereka yang baru belajar. Seorang pelukis profesional, akan berbeda hasil karyanya dengan mereka yang baru berlatih.

Terhadap kenyataan, adanya perbedaan kualitas karya itu, seorang muslim tidak boleh menunjukkan sikap memperolok-olok karya orang lain. Perhatikan firman Allah Swt, dalam Surah Al-Hujurat ayat 11.

Terjemahan:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang lakilaki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Qs. Al-Hujurat : 11)

Dalam Surah Al-Hujurat tersebut, larangan untuk melakukan sikap memperolok-olok ini dapat berlaku umum. Artinya, seorang muslim tidak boleh memperolok-olok, mengejek, baik fisik seseorang maupun karya seseorang. Karena sesungguhnya, bisa jadi orang yang diolok-olok itu adalah lebih baik dari orang yang memperolok- olok itu sendiri. Para ulama pun, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “jangan mencela dirimu sendiri”, artinya seorang muslim jangan mencela sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Kalau seorang muslim mencela orang mu’min lagi, ibaratnya memperolok diri sendiri.

Akibat saling mengolok-olok sebab bisa menimbulkan pertengkaran yang berahkhir pada perkelahian

Ketika memberikan nama sebutan pun, seorang muslim dilarang menggunakan panggilan yang buruk yaitu gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari. Menyebut orang lain bodoh atau buruk terhadap karyanya adalah sesuatu hal yang kurang baik untuk dilakukan oleh seorang muslim. Dengan kata lain, antar sesama muslim dan juga umat manusia yang lainnya, seorang muslim harus mampu menunjukkan sikap yang santun dan mampu menghargai karya orang lain. Bagaimana pun kualitas karya yang sudah dibuatnya, mereka masih tetap memiliki hak untuk dihargai, dan tidak untuk diejek, diolok-olok atau dihina. Dengan kata lain, seorang muslim yang menghargai karya orang lain berarti telah mampu menunjukkan satu nilai ibadah terhadap sesama manusia.

Bila diperhatikan secara cermat, sesungguhnya baik menghargai karya orang lain atau membuat karya yang positif, kedua-duanya merupakan bagian dari ibadah. Islam memberikan penghargaan yang tinggi terhadap seorang muslim yang produktif, dan mampu menghargai karya orang lain.

B. Muslim yang produktif


Dalam kehidupannya, seorang muslim tidak melulu untuk melaksanakan ibadah mahdah (ritual) seperti sholat, zakat atau puasa. Islam memberikan keterangan tegas, bahwa seorang muslim dituntut beribadah dan sekaligus melaksanakan aktivitas yang positif di muka bumi. Selama hidup di dunia, seorang muslim wajib memperhatikan tugas-tugasnya secara seimbang, baik tugas hidup yang terkait dengan kepentingan duniawi maupun tugas untuk kepentingan akherat.

Kealpaan terhadap salah satu tugas manusia dapat dikatakan sebagai bentuk perilaku perusakan. Artinya seorang muslim yang hanya memperhatikan aspek dunia, berarti dia telah melakukan perbuatan yang merusak kepentingan akherat, sementara orang yang hanya memperhatikan kehidupan akherat berarti telah merusak kesejahteraan hidupnya di dunia.

Oleh karena itu, dalam menjelaskan tentang tugas hidup manusia di dunia ini, Allah Swt melekatkan peringatan menjaga keseimbangan hidup dunia – akherat dengan peringatannya menghindari perbuatan merusak. Allah Swt berfirman:

Terjemahan:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. Al-Qa¡a¡ : 77)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim harus mampu mengisi hidup dan kehidupan ini dengan perbuatan-perbuatan yang positif atau karyakarya hidup yang berkualitas, baik untuk kepentingan dunia maupun kepentingan akherat. Pentingnya menjaga keseimbangan kerja antara kepentingan dunia dan akherat ini, ditemukan pula dalam Qs. Al-Jumu’ah ayat 9-10.

Allah Swt berfirman : 

Terjemahan:

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan salat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Qs. Al-Jumu’ah : 9-10)

Pada surat Al-Jumu’ah tersebut, seorang diperintahkan untuk segera melakukan kegiatan-kegiatan duniawi lainnya selepas melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Hal ini menunjukkan bahwa islam sangat menjunjung tinggi pribadi muslim yang produktif, dan tidak berharap kalangan muslim menjadi seorang pemalas dan sepi dari karya-karya hidup. Dengan demikian, tidak keliru bila disimpulkan bahwa hakikat hidup itu adalah berkarya.

Bentuk karya yang ditunjukkan manusia, bisa berbentuk karya yang bernilai duniawi maupun ukhrawi. Karya-karya nyata yang berbentuk duniawi, misalnya teknologi informatika, otomotif, bangunan, maupun sarana dan prasarana hidup lainnya. Pada ilmuwan muslim masa lalu, telah banyak melahirkan karya-karya yang bernilai tinggi di dunia, seperti kaligrafi karya Mir’ali Syirazi pada abad 19, ilmu pengobatan seperti yang ditunjukkan oleh Ibnu Sina, Al-Farabi wafat tahun 950 M selain dikenal sebagai dokter dan ulama diapun dianggap sebagai salah satu ilmuwan Islam ahli dalam bidang musik. Berbagai hal yang disebutkan tadi, merupakan satu contoh karya seorang muslim dalam kebutuhan hidup di dunia.

Beberapa ilmuwan muslim di jaman dulu berusaha untuk berkarya sebaik mungkin. Kini hasil karya mereka telah berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang 

:
Pada bagian lain, karya manusia dapat ditunjukkan berbagai hal yang terkait dengan kepentingan akherat, seperti sholat, zakat dan puasa. Amalan ini merupakan amalan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Orang yang produktif itu adalah orang yang mampu melahirkan karya duniawi dan juga karya ukhrawi. Dengan kata lain, dalam ajaran Islam yang disebut berkarya itu adalah menunjukkan prestasi hidup dalam bidang kehidupan duniawi maupun akherat. Oleh karena itu pula, maka melahirkan karya nyata yang berkualitas dapat dikategorikan sebagai amal-ibadah.

C. Etos Kerja Seorang Muslim


Dalam menilai seseorang, Islam memberikan penghargaan terhadap masalah-masalah kualitas kerja. Hal ini dibuktikan dengan sikap Rasulullah Muhammad saw yang memberikan penilaian berbeda terhadap orang yang bekerja tanpa ilmu dengan pekerjaan dengan ilmu. Rasulullah bersabda “sedikit kerja, tetapi dilandasi ilmu itu akan produktif. Sedangkan banyak kerja dengan dilandasi kebodohan hasilnya kurang produktif” (qolilul ‘amali ma’al ‘ilmi katsirun, wa katsiru ‘amali ma’al jahili qolilun, HR. As Suyuthi). Ini merupakan kritikan sekaligus peringatan dari Rasulullah Muhammad saw kepada ummat Islam untuk senantiasa meningkatkan produktifitas kerja dengan cara meningkatkan ilmu pengertahuan dan teknologinya, sehingga produktivitas dan kreatifitas kerja bisa meningkat.

Islam bukanlah agama asketis. Islam mengajarkan kepada kita untuk mengaktualisasikan nilai-nilai keimanan dalam bentuk amal, kerja atau perbuatan.

Inilah yang diisyaratkan oleh Sabda Nabi Muhammad berikut ini, “Iman tidak diterima tanpa amal, amal pun tidak diterima tanpa iman” (HR. Thabrani). Bahkan, lebih jauh dari itu, Al-Qur’an senantiasa menyandingkan tuntunan untuk beriman itu, dengan pentingnya ber’amal sholeh. Ini makna pentingnya bekerja, usaha, atau aksi-sosial di lingkungan hidup yang nyata dalam rangka mewujudkan nilai-nilai Islam dalam rangka memakmurkan bumi ini.

Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa salah satu kewajiban seorang manusia di muka bumi ini adalah mencari karunia Allah di seluruh muka bumi ini. Karunia Allah, atau rezeki bisa didapatinya, manakala kita melakukan pencaharian, usaha, atau melakukan perjalanan di segala penjuru bumi. Inilah yang dinyatakan Allah dalam kitab sucinya. Allah Swt berfirman:

Terjemahan

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki- Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (Qs. Al-Mulk : 15).

Walaupun pekerjaan kasar, jika dilakukan dengan kesungguhan, maka hasilnya akan dirasakan oleh orang banyak

Tidak semua amal-ibadah bisa diselesaikan hanya dengan hati dan perbuatan. Tetapi, terdapat sejumlah amalan Islam yang perlu didukung oleh harta atau kekayaan. Untuk naik haji kita membutuhkan ongkos berangkat, dan biaya hidup. Zakat, membutuhkan kekayaan yang sampai pada nishabnya, demikian pula yang lainnya. Dengan kata lain, ada sejumlah amalan Islam yang hanya bisa dijalankan jika kita memiliki sejumlah harta. Termasuk didalamnya adalah amalan berinfak, sebagaimana perintah Allah Swt berikut ini :

Terjemahan:

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Qs. Al-Baqarah : 267)

Kemudian, salah satu ciri orang yang hidup di jaman modern adalah mereka yang memiliki kemampuan membagi waktu. Hidup di dunia ini, perlu selektif, dan proporsional dalam membagi waktu demi mencapai kebahagiaan paripurna. Islam, dalam hal ini menegaskan bahwa seorang muslim itu perlu memiliki waktu yang disediakan untuk bekerja, sebagaimana Allah Swt telah menskenariokannya sendiri, sebagaimana yang terungkap dalam firman-Nya

..Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (Qs. An-Naba : 11).

Hal yang lebih penting lagi, setiap muslim harus merasa yakin bahwa Allah beserta Rasul dan orang-orang mukmin seluruhnya, secara psikologis mendukung dan memperhatikan hasil kerja setiap orang muslim itu sendiri. Allah berfirman :

Terjemahan:

“Dan katakanlah “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Qs. At-Taubah : 105)

Makna “melihat” ayat tersebut, bagi penulis, lebih cenderung diartikan (a) Allah Swt akan mencatat amal perbuatan manusia, apapun juga jenis pekerjaannya. Termasuk dalam hal ini, tentang kegesitannya kita dalam bekerja.

Dengan kata lain, bekerja untuk mencari penghidupan ini, pada dasanya masih tetap merupakan bagian dari ibadah. Maka dengan demikian, Allah Swt akan mencatatkannya. Kedua (b), Rasulullah Muhammad saw akan menjadikan amal perbuatan manusia di dunia ini, sebagai track-record untuk dijadikan pertimbangan dalam memberikan syafa’at kelak dikemudian hari. Dengan kata lain, yang disebut melihat di sini adalah dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakannya ‘kelak’ diakherat nanti. Sementara itu, bagian yang terakhirnya (c) Ummat Islam yang lainnya, juga akan melihat track-record saudaranya untuk kepentingan kemaslahatan umat yang lainnya. Umat Islam ini adalah bersaudara, dan wajib diantara satu dengan yang lainnya itu untuk saling tolong menolong. Maka, perlu adanya saling perhatikan antara satu dengan yang lainya.

D. Berkarya sebagai Ibadah


Allah Swt adalah Maha Bijaksana (Al-Hakiim). Allah mengajarkan tentang berbagai cara melaksanakan sikap rahman-rahim. Termasuk dalam hal ini, Allah menyediakan cara menaburkan kasih-sayangnya kepada makhluk-Nya, ataupun juga dalam memberikan ampunan-Nya. Seandainya, hal ini tidak dimiliki-Nya, maka manusia di muka bumi ini, akan mengalami kesulitan. Kita tahu dan melihat fakta bahwa manusia di muka bumi ini beranekaragam. Tidak semuanya memiliki profesi sebagai ustad, kiyai, atau santri yang senantiasa belajar agama secara formal. Diantara kita ada juga, yang memiliki profesi sebagai buruh, pekerja, atau pengusaha. Sudah barang tentu, dan amat logis, jika frekuensi dan gaya hidup diantara satu dengan yang lainnya itu amat sangat berbeda. Kendatipun, kita tidak menutup kemungkinan —dan ini adalah alamiah— ada juga perilaku-perilaku tertentu ada kesamaannya.

Dengan mencermati masalah seperti itu, jika mekanisme ampunan Allah misalnya- hanya diberikan dengan satu cara saja, maka manusia pekerja seperti petani, atau buruh akan mengalami kesulitan yang sangat besar. Apalagi, jika mekanisme pengampunan itu, harus dengan berhaji, misalnya. Ibadah haji ini membutuhkan dana yang besar. Dan sangat jarang pekerja kecil dapat melakukan hal ini. Oleh karena itu, monolitik, atau ketunggalannya mekanisme pengampunan itu sangat tidak membumi.

Alhamdulillah. Islam adalah agama fitrah. Dengan kata lain, salah satu ciri kefitrahannya Islam itu adalah memiliki mekanisme komunikasi Ilahiah yang sesuai dengan kondisi manusia yang beranekaragam. Termasuk dalam hal ini tentang mekanisme pengampunan Allah Swt terhadap hamba-Nya. Dengan tegas Rasulullah Muhammad saw bersabda, “…barang siapa di malam hari merasa letih karena bekerja dengan tangannya, maka di malam itu ia memperoleh ampunan Allah” (HR. Ahmad). Ini artinya, hidup dalam naungan Islam itu adalah ‘sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau tercapai’. Seorang Muslim, dapat menggapai ampunan Ilahi, dengan cara bekerja demi menghidupi keluarganya. Inilah ciri kerja yang produktif dan efektif.

Hadits Rasulullah di atas, menegaskan tentang status kerja sebagai salah satu washilah dalam Islam. Khususnya, kerja sebagai washilah datangnya ampunan Allah Swt kepada kita. Hal ini, ditegaskan pula dalam hadits yang lainnya. Rasulullah mengatakan , “..Sesungguhnya di antara dosa-dosa terdapat dosa-dosa yang tidak terhapuskan dengan shalat, shedekah dan haji. Dan ia terhapuskan dengan jerih payah untuk mencari penghidupan (rezeki).”(Hr. Thabrani)

Dengan mencermati hadis-hadis Rasulullah ini, maka alangkah kelirunya jika seorang muslim itu menganggap bahwa bekerja itu adalah satu perbuatan duniawi semata. Tidak. Islam tidak mengatakan demikian. Islam melalui penuturannya Rasulullah saw—mengatakan bahwa bekerja itu adalah satu amalan ibadah yang sangat mendapatkan perhatian Allah Swt. Selain bekerja sebagai salah satu amalan yang disenangi, dan dicintai Allah Swt, bekerja juga adalah salah satu mekanisme untuk mendapatkan ampunan-Nya. Hikmah yang kedua, alangkah piciknya seorang muslim yang tidak mau bekerja secara sungguh-sungguh. Alangkah sangat dangkalnya pikiran seorang manusia, yang tidak mau berusaha. Alangkah kelirunya, seorang muslim yang tidak mau berprestasi dalam kerjanya. Jika hal-hal tersebut tadi banyak kita lakukan, maka adanya kecenderungan tidak mendapatkan perhatian Allah, cinta-Nya Allah dan ampunan-Nya Allah juga semakin tipis.

Astaghfirullah al’adzhim. Kita semestinya, kian memperbanyak ber-istia’«ah wa isiti’anah kepada Allah Swt, supaya tidak dikelirukan pemahaman, persepsi tentang status kerja dalam Islam ini.

Seandainya setiap Muslim memiliki pemahaman tentang status kerja paling tidak seperti apa yang telah diuraikan di atas, Insya Allah, Islam akan kembali memperoleh kejayaan di masa depan ini seperti kejayaan yang pernah berhasil diraih. Bahkan, penulis khawatir, kekeliruan kita kali ini adalah hasil pola pendidikan yang salah (entah karena kita bodoh, atau ada skenario penjajah dan orientalis) yang menjauhkan makna status kerja di dalam ajaram Islam. Sehingga, banyak di antara kita yang memahami ibadah itu secara ritual semata. Subhanallah, dengan kesadaran akan bangkitnya Islam di abad XV Hijriah ini, mari kita mulai tanamkan kesadaran-kesadaran Islam yang benar kepada Ummat Islam.

Salah satu kekeliruan kita, adalah seringkali menghabiskan waktu hidup hanya untuk ibadah, dalam pengertian mahdhah. Sehingga, tak jarang di antara kita ada yang merasa telah menjadi seorang Muslim sejati dengan cara memperbanyak dzikir, baca Qur’an dengan meninggalkan mencari nafkah.

Dalam pandangan kita, tindakan tersebut tidak pada tempat. Bahkan, sedikit keliru dalam mengartikan ibadah. Sebab kemampuan membagi waktu itu adalah salah satu ciri dari orang yang memahami ajaran Islam. Waktu hidup, selain untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi, tetapi juga Allah ungkapkan :

Terjemahan

Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat,
Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian,
Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan

(Qs. An-Nabaa : 9-11)

Dengan sangat gamblang, Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah Swt memberikan ruang waktu kepada manusia untuk mencari penghidupan.

penghidupan. Dengan kata lain, justru jika kita tidak mengalokasikan waktu untuk mencari penghidupan (ma’isyah), dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak qur’ani, tidak Islami. Ayat itu pun, dapat dianggap sebagai perintah bahwa seorang muslim harus cermat dalam mengelola waktu, sehingga hidup ini benarbenar berkualitas.

Abdul Hamid Mursi, menjelaskan bahwa kewajiban pekerja dalam Islam itu ada dua jenis. Pertama, yaitu amanah dalam bekerja. Amanah dalam bekerja ini, terbagi lagi ke dalam beberapa hal, yaitu :

a. Bekerja secara profesional. Sebuah pekerjaan harus dilakukan sebaik mungkin sehingga memperoleh hasil terbaik. Sebab, Allah Swt juga memberikan perintah tentang perlunya berbuat yang terbaik dalam hidup ini. (bandingkan dengan Qs. An-Nahl : 93).

b. Kejujuran dalam bekerja adalah ibadah. Islam memandang bahwa kejujuran dalam bekerja bukan hanya merupakan tuntunan, melainkan juga ibadah. Seorang muslim yang dekat dengan Allah akan bekerja dengan baik untuk dunia dan akherat (bandingkan dengan Qs. Asy-Syur± : 26). c. Memenuhi amanah kerja adalah jenis ibadah yang paling utama. Ada kisah seorang sahabat yang setiap hari beribadah dan berkhalwat kepada Allah Swt, kemudian Rasulullah bertanya, “Siapa yang memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya?” Kemudian mereka menjawab, “Saudaranya”. Rasulullah berkata, “Sesungguhnya, saudaranya itu lebih beribadah daripada dia.”

d. Dasar keimanan dalam Islam adalah amal perbuatan. Oleh karena itu, kerja, beramal merupakan dasar utama bagi seorang muslim.

Refleksi

Islam mengajarkan keseimbangan. Hidup seimbang di dunia ini ditunjukkan dengan bentuk seimbang dalam menjaga kebutuhan hidup dunia dan kebutuhan akherat. Sebagai makhluk yang hidup di dunia, maka setiap muslim wajib untuk bekerja. Bekerja adalah bagian dari ibadah kepada Allah Swt. Oleh karena itu, dalam menjalankan pekerjaan ini harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Terhadap hasil pekerjaan orang lain, kita tidak boleh mencela. Karena sesungguhnya mencela hasil karya orang lain selain dapat menyakiti perasaan orang tersebut, termasuk salah satu bentuk akhlak buruk terhadap sesama. Menghargai hasil karya orang lain, sama maknanya dengan mencintai hasil perbuatan sendiri. Lebih jauh lagi, dapat dimaknai sebagai bagian dari rasa syukur kita kepada Allah Swt yang telah memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada kita semua.

Rangkuman

Menghargai hasil karya orang lain adalah bentuk akhlak mulia yang dianjurkan dalam Islam.

Menghargai hasil karya orang lain sama nilainya dengan mensyukuri nikmat Allah.

Setiap pekerjaan, apapun bentuk dan hasilnya harus dijadikan bagian dari ibadah kepada Allah Swt.

Sesungguhnya di antara dosa-dosa terdapat dosa-dosa yang tidak terhapuskan dengan shalat, sedekah dan haji. Dan ia terhapuskan dengan jerih payah untuk mencari penghidupan (rezeki).

Setiap muslim wajib menunjukkan semangat kerja yang maksimal dan ikhlas, sehingga benar-benar dapat bernilai ibadah.

Islam memberikan anjuran kepada umatnya untuk senantiasa menjadi orang yang produktif, yaitu orang yang pada hari ini memiliki karya hidup lebih baik dari hari kemarin.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *