Para petani telah menanam padi pada musim tanam ini dengan harapan memperoleh panen yang bagus. Mereka memilih benih yang baik dan merawat tanamannya dengan baik. Tanaman padi mereka tumbuh dengan subur dan kini mulai berbuah. Akan tetapi, hujan deras disertai angin yang menerjang kampung dan persawahan mereka menyebabkan padi roboh.

Kenyataan yang dihadapi petani tidak seindah bayangan dan harapan.

Pada tahun ini mereka terancam gagal panen karena tanaman padi tidak dapat tumbuh normal. Kenyataan ini diterima oleh petani dengan ikhlas dan rida. Mereka telah menerapkan perilaku qanaah. Perilaku qanaah merupakan salah satu perilaku yang akan kita pelajari dalam bab ini.

Sawah rusak diterjang angin puting beliung.

A. Qanaah

1. Pengertian dan Contoh Perilaku Qanaah

Qanaah dapat diartikan sebagai sikap rida menerima segala nikmat yang telah dikaruniakan Allah Swt. Qanaah ditunjukkan dengan kerelaan diri untuk menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki serta menjauhkan diri dari sikap tidak puas dan selalu merasa kekurangan yang berlebih-lebihan.

Sifat qanaah merupakan perilaku terpuji yang penting dimiliki setiap muslim. Seseorang yang memiliki sifat qanaah ketika menerima sesuatu yang tidak sesuai keinginan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. bukan semakin jauh atau melalaikan-Nya.

Seseorang yang jika ditimpa suatu yang tidak diinginkan misalnya bencana semakin jauh dari Allah Swt. berarti tidak memiliki sikap qanaah. Sikap qanaah akan menyebabkan seseorang semakin dekat dengan Allah ketika tertimpa musibah atau sesuatu yang tidak diinginkan.

Qanaah bukan berarti bersikap pasrah buta atau hidup bermalas-malasan. Seseorang yang bersifat qanaah bukan berarti tidak mau berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Seseorang yang memiliki sifat qanaah berusaha sekuat tenaga untuk menggapai keinginan dan cita-cita. Akan tetapi, jika hasil usaha yang dilakukan belum sesuai dengan harapan ia tetap rela hati dengan rasa syukur dan lapang dada.

Berkaitan dengan sifat qanaah Rasulullah saw. bersabda yang artinya, ”Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta qanaah (merasa cukup) dengan apa yang telah dikaruniakan Allah kepadanya”. (H.R. Muslim)

Contoh perilaku qanaah dapat ditemukan dalam uraian berikut.

Pada tahun ini Farida terpilih untuk mewakili sekolah dalam olimpiade matematika. Untuk menghadapinya, Farida mempersiapkan diri sebaik mungkin. Tidak lupa ia berdoa memohon pertolongan Allah Swt. demi keberhasilan usahanya.
Empat hari sebelum olimpiade Farida terserang demam dan dinyatakan dokter terserang demam tifoid. Farida harus opname di rumah sakit dan tidak dapat mengikuti pertandingan. Meski kecewa, Farida menerimanya dengan ikhlas dan rida.

Farida telah menunjukkan perilaku qanaah. Dia berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh hasil sesuai dengan keinginan. Akan tetapi, harapan tersebut tidak dapat terwujud karena ia harus terserang demam tifoid dan harus dirawat. Semua itu ia terima dengan ikhlas dan lapang dada.

Bencana yang menimpa hendaknya semakin mendekatkan kita kepada-Nya.

2. Pentingnya Perilaku Qanaah dalam Kehidupan

Perilaku qanaah sangat penting bagi kehidupan. Perilaku qanaah sejatinya berkaitan erat dengan rasa syukur kepada Allah Swt. Rasa syukur tersebut ditunjukkan dalam bentuk rasa puas terhadap rezeki yang dikaruniakan Allah Swt. Rezeki yang kita terima berasal dari Allah Swt. semata. Tidak ada makhluk yang mampu memberi rezeki. Ingatlah ketika Nabi Sulaiman yang kaya raya memohon kepada Allah Swt. agar diizinkan untuk menanggung rezeki satu makhluk-Nya, yaitu ikan nun. Kekayaan Nabi Sulaiman yang melimpah tidak cukup untuk memberi rezeki kepada satu makhluk-Nya.

Makhluk hanya sebagai perantara rezeki, tetapi asal rezeki tersebut dari Allah Swt. Rezeki yang dikaruniakan Allah Swt. berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya. Ada manusia yang dikaruniai rezeki yang berlimpah. Ada pula yang dikaruniai rezeki yang pas-pasan, bahkan sering kurang. Jika Allah Swt. memberi kekurangan, kita tidak perlu merasa iri atau dengki dengan nikmat yang diterima orang lain. Perhatikan firman Allah Swt. berikut ini.

Walla – hu fad. d. ala ba‘d. akum ‘ala – ba‘d. in fir-rizq(i) . . . .

Artinya: Dan Allah melebihkan sebagian rezeki kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki. (Q.S. an-Nah.l [16]: 71)

Jika rezeki yang dikaruniakan Allah Swt. tidak sesuai dengan keinginan, seseorang harus tetap berhusnuzan kepada Allah Swt. Kita tidak boleh berpikir negatif meskipun rezeki yang dikaruniakan Allah Swt. tidak seperti harapan. Rasa syukur harus tetap ditanamkan dalam hati dan diucapkan dengan lisan meskipun keinginan tidak terkabul. Bisa jadi ketika dikaruniai rezeki yang melimpah kita akan jauh dari Allah Swt. Banyak atau pun sedikit rezeki yang dikaruniakan Allah Swt. harus tetap disyukuri. Allah Swt. berjanji akan menambah rezeki atau nikmat jika kita bersyukur. Jika kita mengingkari nikmat yang dikaruniakan Allah Swt., azab-Nya sangat berat. Perhatikan firman Allah Swt. berikut ini.

Wa iz . taaz . z . ana rabbukum la’in syakartum la’azi – dannakum wa la’in kafartum inna ‘az . a – bi – lasyadi – d(un)

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (Q.S. Ibra-hi – m [14]: 7)

Dalam ayat di atas Allah Swt. berjanji akan menambah nikmat yang telah dikaruniakan kepada hamba-Nya jika hamba tersebut pandai bersyukur. Jika hamba yang dikaruniai nikmat tidak bersyukur, azab- Nya sangat berat. Oleh karena itu, jika kalian ingin mendapat nikmat yang lebih banyak, bersyukurlah atas nikmat yang dikaruniakan-Nya.

Sifat qanaah memiliki manfaat dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun bagi masyarakat. Di antara manfaat qanaah bagi kehidupan pribadi sebagai berikut.
a. Jiwa akan tetap tenteram.
b. Terhindar dari sifat tamak dan dengki.
c. Terhindar dari kekhawatiran dan keresahan.
d. Hidup lebih tenang.
e. Merasa puas atas nikmat yang diberikan Allah Swt.
f. Sabar dalam menerima cobaan yang datang.

Perilaku qanaah bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Qanaah juga memiliki manfaat bagi masyarakat. Manfaat sifat qanaah bagi masyarakat meliputi hal-hal berikut.
a. Terjalin hubungan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat.
b. Terhindar dari sifat suka menyakiti dan memfitnah.
c. Terhindar dari sifat iri dan dengki. d. Tercipta masyarakat yang senantiasa jujur satu sama lain.

3. Berperilaku Qanaah dalam Kehidupan

Di depan telah dijelaskan tentang manfaat sifat qanaah. Qanaah memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, sifat qanaah harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim. Jika Allah Swt. menimpakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan atau harapan, jangan berputus asa atau menyalahkan Allah Swt. Perilaku qanaah dapat dibiasakan dengan melakukan hal-hal berikut.

a. Senantiasa Bersyukur kepada Allah Swt.

Syukur merupakan kunci pokok agar seseorang menjadi pribadi yang qanaah. Bersyukur berarti mengucapkan rasa terima kasih kepada Allah Swt., zat yang memberi karunia kepada makhluk.

Salah satu cara bersyukur kepada Allah Swt. adalah dengan mengucapkan hamdalah.

Ketentuan yang digariskan Allah Swt. pasti terjadi dan tidak ada yang dapat menolaknya. Segala sesuatu yang terjadi atau menimpa seorang hamba merupakan ketentuan Allah Swt., baik itu berupa kenikmatan atau sesuatu yang tidak diinginkan.

Nikmat maupun sesuatu yang tidak sesuai harapan harus disyukuri dan diterima dengan ikhlas serta lapang dada. Senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. merupakan salah satu cara menerapkan qanaah dalam kehidupan.

b. Tidak Mudah Putus Asa

Putus asa merupakan sifat yang sangat dibenci oleh Allah Swt. dan rasul-Nya. Umat Islam dilarang berputus asa dalam menghadapi segala masalah. Meskipun berat ujian yang menimpa seseorang dilarang berputus asa. Di balik kesulitan yang menimpa terdapat kemudahan. Allah Swt. berfirman seperti berikut.

Fa’inna ma‘al-‘usri yusra – (n). Inna ma‘al-‘usri yusra – (n)

Artinya: Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (Q.S. asy- Syarh. [94]: 5–6)

Putus asa tidak akan dapat menyelesaikan suatu persoalan. Putus asa akan mendatangkan masalah baru dan menambah beban serta menambah rumit persoalan yang ada. Oleh karena itu, jangan pernah berputus asa. Jadilah seorang hamba yang pantang menyerah dalam menghadapi setiap masalah.

c. Menjaga Keimanan dan Ketakwaan

Menjaga keimanan dan ketakwaan harus senantiasa dilakukan oleh seseorang yang beriman. Ketika mendapat nikmat yang melimpah, keimanan dan ketakwaan harus tetap dijaga. Begitu pula ketika musibah menimpa, keimanan dan ketakwaan harus tetap dijaga. Jangan sampai keimanan dan ketakwaan tergadaikan atau goyah karena musibah yang menimpa. Keimanan dan ketakwaan yang teguh akan menyelamatkan seseorang dari murka Allah Swt.

Home :