A. Pendahuluan 

Dalam ajaran Islam perbuatan manusia tidak bersifat netral. Setiap perbuatan manusia senantiasa mengandung nilai di sisi Allah Swt. Perbuatan baik akan mendapat imbalan pahala, sedangkan perbuatan buruk atau jahat akan mendapatkan siksa.



Terjemah:

dari Nawas bin Sam’an ra., dari Rasulullah saw beliau bersabda: “Kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahjui manusia” (HR. Muslim)

Perbuatan buruk atau perbuatan jahat di sebut pula sebagai perbuatan dosa. Ada dua jenis perbuatan dosa, yaitu perbuatan dosa besar dan perbuatan dosa kecil. Kedua jenis perbuatan dosa ini akan menjadi bagian penting dalam mengukur kualitas amalan di akherat kelak. Karena ada nilai dosa dan pahala itulah, pertimbangan amal manusia akan berbeda-beda. Mereka yang memiliki timbangan amal yang baik lebih besar akan mendapatkan pahala serta kehidupan yang memuaskan, sedangkan mereka yang memiliki timbangan dosa yang lebih besar akan mendapatkan balasan api neraka.

Dalam Qur’an Surah Al-Qari’ah ayat 6 -11, Allah Swt berfirman :


Terjemahan

“(6) dan Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, (7) Maka Dia berada dalam kehidupan yang memuaskan, (8) dan Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, (9) Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah, (10) tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu?, (11) (yaitu) api yang sangat panas. (Qs. Al-Qari’ah : 6-11)

B. Pengertian Dosa Besar

1. Di lihat dari kehendak Ilahi : Peluang Ampunan


Sesungguhnya kategori dosa itu dapat disebut sebagai dosa besar atau tidak, adalah dilihat dari ada tidaknya peluang ampunan dari Allah Swt. Bila jelas-jelas, Allah Swt menyatakan tidak akan memberikan ampunan kepada hamba pelaku dosa tersebut, maka dosa tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah dosa yang besar.

Dosa besar dari sisi peluang pengampunan ilahi ini ada dua jenis. Pertama, Allah Swt dengan tegas menyatakan tidak akan memberi ampunan terhadap pelaku dosa musyrik.



Terjemahan

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”
(Qs. An-Nisa : 48)

Pada ayat yang lain, dikemukakan :



Terjemahan

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:

“Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”
(Qs. Al-Maidah : 72)

Kedua, sebuah dosa tidak akan mendapat ampunan dari Allah Swt., manakala belum dilakukannya prosedur permohonan maaf kepada sesama manusia. Misalnya saja, dosa kepada orang tua. Rasulullah Muhammad saw bersabda, “sesungguhnya ridla Allah bergantung pada ridla orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orangtua”. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah dosa akan bernilai dosa besar, manakala seorang anak tidak melakukan permohonan maaf kepada orang tua atau tidak mendapatkan maaf dari orangtua.

2. Di lihat dari motif : kesombongan


Islam memberi keterangan yang jelas mengenai jenis-jenis dosa manusia. Setiap jenis dosa tersebut memiliki implikasi atau dampak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sufyan At-Tsauri berpendapat bahwa “setiap maksiat yang timbul dari kehendak syahwat masih dapat diharapkan ampunan-Nya. Tetapi maksiat yang ditimbulkan karena takabur, jangan diharapkan ampunan- Nya. Maksiat iblis berawal dari rasa takaburnya, sedang Adam as tergelincir karena dorongan syahwat’.

Pandangan At-Tsauri ini merupakan penjelasan tambahan mengenai kategori dosa besar dan dosa kecil. Hemat kata, dari pandangan tersebut dosa besar itu adalah dosa yang berawal dari tabakur (sombong), sedangkan dosa yang kecil adalah berawal dari sahwat.

3. Di lihat frekuensi : jumlah


Rasulullah Muhammad saw bersabda, “la ¡agirata ma’al i¡rar”. Tidak lagi dianggap dosa kecil, apabila dilakukan terus menerus. Hal ini menunjukkan bahwa besar kecilnya sebuah dosa, bukan dilihat dari bentuk dosanya, melainkan di lihat dari sisi frekuensi. Artinya, kendati –dianggap sebagai satu perbuatan kecil— misalnya menyontek hasil ujian, namun bila perbuatan ini dilakukan secara terus menerus, maka nilai perbuatan tersebut menjadi satu perbuatan besar.

Perbuatan menyimpang yang dilakukan secara rutin ini biasa disebut sebagai praktek penyimbangan dalam bentuk primer, yaitu perbuatan penyimbangan yang dilakukan berulang-ulang. Sedangkan perbuatan penyimpangan yang tidak diulang-ulang atau hanya ’terpaksa’ dan ’sesaat’ disebut sebagai penyimpangan sekunder. Dengan kata lain, satu perbuatan dosa disebut sebagai dosa besar bila berstatus sebagai penyimpangan primer.

4. Di lihat dari Efek : Taubat


Untuk melihat besar tidaknya sebuah dosa, dapat dilihat pula dari sisi tindak lanjut. Apa yang dilakukan seseorang setelah melakukan perbuatan dosa, dapat dikatakan besar kecilnya sebuah dosa. Ibnu Hajar al-Asqolani menuturkan bahwa Rasulullah Muhammad saw bersabda, ‘la kabirata ma’al istigf±r’, Terjemahan‘tidak menjadi dosa besar apabila langsung meminta ampunan kepada Allah Swt’.

C. Perilaku yang termasuk Dosa Besar

1. Syirik


Terjemahan

“Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (Qs. An-Nisa : 119)

Menurut kepercayaan Arab jahiliyah, binatang-binatang yang akan dipersembahkan kepada patung-patung berhala, haruslah dipotong telinganya lebih dahulu, dan binatang yang seperti ini tidak boleh dikendarai dan tidak dipergunakan lagi, serta harus dilepaskan saja.

Merubah ciptaan Allah dapat berarti, mengubah yang diciptakan Allah seperti mengebiri binatang. ada yang mengartikannya dengan merubah agama Allah.

2. Memakan harta anak yatim


¨ Terjemahan

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”
(Qs. An-Nisa : 10)

3. Bunuh diri


Terjemahan

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Qs. An-Nisa : 29-30)

Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan. 

4. Membunuh orang lain

Terjemahan

Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepa-danya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Qs. An-Nisa : 93).



Terjemahan

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (Qs. Al-Maidah : 32)

Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

5. Menyesatkan orang lain

Terjemahan

“Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat Dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Qs. An-An’am : 144)

6. Memerangi rasul dan merusak bumi


Terjemahan

Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediaman-nya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar.. (Qs. Al-Maidah : 33)

7. Narkoba


Terjemahan

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatanperbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Qs. Al-Maidah: 90).

Al-Azlam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masingmasing yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah.

bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.

D. Cara Melebur dosa

1. Sedekah


Terjemahan

“jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orangorang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Baqarah : 271)

2. Menjauhi dosa besar menghapus dosa kecil

dalam Qs. An-Nisa 31



Terjemahan

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (Qs. An-Nisa : 31)

3. Taubat


Terjemahan

“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; Sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat  yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(Qs. Al-Araf : 153).

4. Berbuat baik


Terjemahan

Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda : Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik “ (Riwayat Turmuzi, dia berkata haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih).

Terjemahan

“mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.” (Qs. Al-Qa¡a¡ : 54)

5. Di beri hukum


Terjemahan

“dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, Maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(Qs. An-Nisa : 16)

Refleksi

Setelah memahami pelajaran ini, seorang muslim dituntut untuk senantiasa hidup berhati-hati. Hati-hati dalam ucapan dan perbuatan. Karena bila tidak hati-hati, perbuatan kita akan terjerumus pada tindakan dosa. Sementara perbuatan dosa dapat membuahkan siksa, baik di dunia maupun di akherat.

Dosa manusia dikelompokkan menjadi dosa kecil dan dosa besar. Hanya saja, dosa kecil yang dilakukan secara berulang-ulang dan atau dilandasi oleh motif melawan hukum Islam maka akan lahir sebagai perbuatan dosa besar. Hal ini seperti yang dialami oleh Iblis ketika melawan perintah Allah Swt untuk memberikan penghormatan kepada Adam as.

Namun demikian, seorang muslim pun tidak boleh minder atau putus asa. Dibalik adanya ancaman siksa terhadap perbuatan dosa, Islam pun menyediakan cara-cara untuk menghindari siksa neraka. Diantara cara untuk terhindar dari dosa itu adalah membiasakan sedekah dan bertaubat. Hal ini merupakan salah satu cara dalam meningkatkan kualitas iman dan taqwa sekaligus menghindarkan diri dari siksa neraka

Rangkuman


Islam memberikan keterangan bahwa perilaku manusia dapat bernilai pahala dan dapat bernilai dosa.

Perbuatan dosa dapat dikategorikan dosa besar, dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu kehendak ilahi, frekuensi, efek maupun motif perbuatan dosa itu sendiri.

Sebuah perbuatan dapat dikategorikan dosa besar, karena Allah tidak berkehendak untuk memberikan ampunan. Misalnya saja, terhadap perbuatan syirik.

Perbuatan dosa yang dilakukan berulang-ulang pun dapat dikelompokkkan sebagai dosa besar. Ibarat debu yang menempel di kaca, maka lama kelamaan akan menjadi kotoran tebal yang dapat menjauhkan hati dari ingat kepada Allah Swt.

Karena motif sombong atau melawan perintah Allah Swt, maka satu perbuatan dosa dapat bernilai dosa besar.

Banyak contoh yang termasuk dalam dosa besar, seperti narkoba, zina, dan syirik.

Cara menghapus dosa yaitu mengeluarkan sedekah, menjauhi perbuatan dosa, dan taubat.

Home :