Pendahuluan

Menjelang berakhirnya tahun 2007, pemimpin-pemimpin di dunia melaksanakan persidangan internasional tentang perubahan global (global warming) di dunia. Kegiatan ini diselenggarakan di Provinsi Bali Indonesia. Pertemuan internasional yang merupakan program kerja PBB (United Nations) ini merupakan satu ikhtiar bersama, usaha bangsa-bangsa di dunia untuk mengantisipasi menyusutnya kualitas lingkungan hidup.

Berbagai kejadian alam di dunia, mulai dari perubahan iklim yang tidak menentu, suhu rata-rata di muka bumi yang menunjukkan trend menaik, mencairnya es di daerah kutub, dan bencana alam yang datang bertubi-tubi menjadi tantangan dan “PR” jangka panjang bagi manusia untuk dengan seksama memperhatikan kelestarian alam.

Selaras dengan masalah ini, kelompok agama pun kembali mengingatkan tentang ajaran agama mengenai pentingnya menjaga kelestarian bumi. Khusus dalam ajaran Islam, ada beberapa ayat suci Al-Qur’an yang memberikan penjelasan tegas mengenai pentingnya seorang muslim menjaga kelestarian alam pada umumnya, dan khususnya lingkungan hidup

B. Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41-42 tentang perintah menjaga kelestarian lingkungan hidup

  1. Membaca teks dan tajwid

Terjemah

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar-Rum: 41)

Terjemahan

Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”. (Qs. Ar-Rum: 42)

Pada ayat 41-42, terdapat beberapa kata kunci yang dapat membantu memahami makna kandungan ayat tersebut.

No. Kata dalam Bahasa Arab Artinya
1 Zaharal Tampak, kelihatan
2 Fasad Kerusakan
3 Kasabat Pekerjaan, perbuatan
4 Aidin nas tangan manusia
5 Yarji’un Mereka kembali
6 Siru Berjalan, perjalanan
7 Al-Ardi Bumi
8 Fanzuru Perhatikan
9 ‘Aqibaihi Akibat
10 Musyrikun Orang yang menyekutukan Tuhan


Kemudian tajwid yang dapat dipelajari dalam kedua ayat tersebut, minimalnya ditemukan :

Penjelasan Arti

Kedua ayat ini memberikan keterangan mengenai berbagai kenampakan alam yang sudah rusak di sekeliling kehidupan manusia, baik yang ada di daratan maupun di lautan. Kenampakan kerusakan alam ini, merupakan buah dari tangan-tangan manusia yang kurang memperhatikan kelestarian alam dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.

Tujuan ditampakkannya bencana alam atau kerusakan alam itu, sesungguhnya Allah Swt maksudkan supaya manusia menyadari akan dampak buruk dari perilaku yang selama ini dilakukannya. Sehingga pada akhirnya mereka mau untuk kembali ke jalan yang lurus.

Untuk memantapkan dan menemukan pelajaran yang lebih lengkap tentang kualitas lingkungan hidup ini, Islam memberikan anjuran kepada manusia untuk segera melakukan observasi ke berbagai penjuru dunia. Dalam kaitan ini, supaya manusia mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih banyak mengenai keadaan dan kondisi alam semesta yang kini ditinggalinya sendiri.

C. Al-Qur’an Surah Al-‘Araf ayat 56-58
tentang perintah menjaga kelestarian lingkungan hidup

Terjemahan

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Qs. Al-‘Araf: 56)

Terjemahan

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Qs. Al-‘Araf: 57)

Terjemah

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (Qs. Al-‘Araf: 58)

Pada ayat 56-58, terdapat beberapa kata kunci yang dapat membantu memahami makna kandungan ayat tersebut.

No. Kata dalam Bahasa Arab Artinya
1 Tufsidu Membuat kerusakan
2 La Tidak, jangan
3 Islahiha diperbaiki
4 Wad’uhu berdoalah
5 Al-ma’a air
6 Sahab awan
7 Rihun angin
8 Kharaja Keluar, muncul
9 Tayyib baik
10 Al-baladu Tanah, negeri, wilayah

Kemudian tajwid yang dapat dipelajari dalam kedua ayat tersebut,
minimalnya ditemukan :

D. Al-Qur’an Surah Sad ayat 27
tentang perintah menjaga kelestarian lingkungan hidup

Membaca teks dan tajwid

Terjemahan

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orangorang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.

Pada ayat 56-58, terdapat beberapa kata kunci yang dapat membantu memahami makna kandungan ayat tersebut.

No. Kata dalam Bahasa Arab Artinya
1 Kholaqna Kami menciptakan
2 Sama’ Langit
3 Bainahuma Diantara keduanya
4 Batilan Tanpa makna, tanpa hikmah
5 Zonna Sangkaan, anggapan

Kemudian tajwid yang dapat dipelajari dalam kedua ayat tersebut, minimalnya ditemukan :

Penjelasan Arti

Allah Swt menceritakan bahwa tidak sekali-kali Dia menciptakan makhluk-Nya dengan main-main, melainkan Dia menciptakan mereka supaya mereka menyembah-Nya dan mengesakan-Nya. Kemudian Allah akan menghimpun mereka di hari perhimpunan, maka Dia akan memberi pahala kepada orang yang taat dan mengazab orang kafir.

Dan tidaklah Allah Swt menghadirkan bumi dan segala isitinya yang berupa hal-hal yang berfaedah, baik di permukaan bumi maupun di dalam perutnya, dan tidak pula Allah menciptakan apa-apa yang ada di antara keduanyam baik yang mereka ketahui maupun yang tidak diketahui sebagai main-main dan kesia-sian. Akan tetapi, semua hal itu diciptakan Allah Swt memiliki hikmath-hikmah atau faedah yang bermanfaat bagi kehidupan manusia

Orang kafir yang dimaksudkan dalam ayat 27 tersebut adalah orang yang tidak percaya kepada hari berbangkit dan tidak pula percaya kepada hari kembali. Mereka hanya percaya pada kehidupan di dunia ini saja.

E. Perilaku Melestarikan Lingkungan Hidup

Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia, pada satu sisi membawa dampak yang sangat positif namun di sisi lain membawa dampak negatif terhadap kelestarian hutan.

Akibatnya pencapaian pertumbuhan ekonomi di satu sisi dan konservasi lingkungan di sisi lain seolah menjadi dua sisi pembangunan yang saling berseberangan. Perusakan hutan yang semakin marak mengakibatkan degradasi fungsi hutan yang semakin memprihatinkan. Degradasi ini disebabkan oleh adanya aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya hutan serta pengelolaan hutan yang tidak tepat, antara lain ilegal logging, perambahan, penjarahan, okupasi lahan, kebakaran hutan, serta pengolahan kayu yang melebihi kemampuan supply bahan bakunya.

Kondisi seperti ini semakin diperparah oleh lemahnya penegakan hukum, lambatnya pemulihan ekonomi, rendahnya kesejahteraan masyarakat, merebaknya konflik sosial serta kurangnya sinergitas pengelolaan hutan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta perilaku dan peran masyarakat itu sendiri dalam pelestarian hutan.

Kondisi di atas tentunya tidak boleh kita biarkan karena keberlangsungan hidup kita akan tergantung pada daya dukung dan daya tampung lingkungan, kualitas hidup kita juga akan tergantung pada kualitas lingkungan, serta sebagai khalifatullah fil ard (wali Allah di muka bumi) maka kita pun memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan.

Tuhan memang telah mengaruniakan lingkungan hidup kepada masyarakat Indonesia yang kaya ini untuk diambil manfaatnya demi kesejahteraan umat manusia, karena itu kita harus bersyukur dengan cara memelihara kelestariannya. Tanah, hutan, dan kekayaan alam ini pada hakekatnya adalah titipan anak cucu kita, agar di masa mendatang mereka pun dapat memanfaatkan untuk kelangsungan hidupnya.

Pengalaman negara maju, seperti Jepang, ternyata meskipun kegiatan industri dan perdagangan Jepang tumbuh demikian tinggi dalam beberapa dekade terakhir, akan tetapi konservasi lingkungan mereka juga sangat baik sehingga saat ini ternyata tidak kurang dari 70% wilayah Jepang ditutupi oleh hutan yang terpelihara baik.

Hal ini membuktikan bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi bisa dilakukan secara bersamaan dengan upaya konservasi lingkungan, sepanjang masyarakat, dunia usaha dan pemerintah senantiasa bergandengan tangan dalam mengelola lingkungan.

Oleh karena itu, sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa Allah Swt mengingatkan tentang potensi sumber daya alam yang melimpah baik di darat maupun dilautan untuk bisa dikelola untuk kepentingan manusia. Pengelolaan lingkungan pesisir dan laut sesungguhnya tidak bisa terlepas dari pengelolaan lingkungan dalam batasan daerah aliran sungai. Wilayah pesisir dan laut merupakan muara dari suatu daerah aliran sungai sehingga dampak dari aktivitas pembangunan yang dilakukan di daerah hulu akan dirasakan di daerah pesisir.

Karena itu, pengelolaannya tidak bisa dibatasi dalam batasan wilayah administrasi namun harus dilakukan secara terkoordinasi dalam batasan daerah aliran sungai. Dengan demikian, kewajiban mengelola lingkungan pesisir tidak hanya melekat pada masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir saja namun juga merupakan kewajiban seluruh masyarakat yang tinggal di daerah hulunya. Perlu ada kerjasama semua pihak untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Berkaitan dengan itu, pembangunan daerah yang akan kita laksanakan ke depan adalah pembangunan daerah yang berada dalam koridor pembangunan berkelanjutan. Sebagai konsekuensinya segala langkah pembangunan saat ini harus senantiasa mempertimbangkan pengaruhnya bagi generasi yang akan datang, bagi daerah lain dan bagi kelompopk masyarakat lain.

Sebagai bagian dari masyarakat dunia, kita memang mutlak dituntut untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Hal itu sejalan pula dengan millenium development goals yang dicanangkan oleh para pemimpin negara-negara sedunia di Johanesburg beberapa waktu yang lalu, antara lain :

o Mengurangi tingkat kemiskinan dan kelaparan yang parah;

o Mencapai pendidikan dasar secara menyeluruh;

o Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup; serta

o Mengembangkan kemitraan global dalam pembangunan.

Refleksi

Alam adalah warisan anak cucu kita. Begitulah kata pepatah bijak yang sering kita dengar. Kata ini sangat tepat, khususnya bila dikaitkan dengan pentingnya umat manusia saat ini untuk melaksanakan kewajiban melestarikan alam.

Setiap manusia memiliki hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan potensi Alam. Karena sesungguhnya tujuan diciptakannya alam pun adalah untuk kepentingan hidup manusia. Namun, kekayaan alam yang ada ini, tidak boleh dikonsumsi atau dieksploitasi secara sewenang-wenang, sehingga menyebabkan kerusakan alam.

Pada masa kini, bukan saja kerusakan hutan dan pencemaran sungai. Kerusakan alam yang terjadi saat ini, terjadi di daratan dan dilautan bahkan juga di udara. Pemanasan global merupakan satu peristiwa alam yang akan menjadi salah satu ancaman masa depan manusia. Bila pemanasan global ini terus terjadi, maka keselamatan manusia di masa depan sulit dipertahankan.

Berbagai kerusakan yang terjadi tersebut, sudah tentu adalah akibat dari ulah manusia. Dengan kata lain, untuk mempertahankan kelestarian alam ini pun, semua orang, tidak terkecuali memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian alam.

Rangkuman

Tujuan diciptakan alam dan segala isinya adalah untuk kepentingan hidup manusia, dan manusia memiliki hak untuk memanfaatkannya.

Dalam cara memanfaatkan alam dan segala isinya ini, perlu memperhatikan kebutuhan dan kelestarian alam, sehingga tidak menyebabkan adanya kerusakan alam.

Di era modern ini, telah tampak kerusakan alam baik yang didaratan dan dilautan.

Allah memberikan peringatan kepada manusia untuk senantiasa menjaga kelestarian alam. Hal ini tertuang dalam Qs. Ar-Rum ayat 41-42, Qs. Al-‘Araf ayat 56-58, dan Qs. Sad ayat 27.

Kerusakan alam yang terjadi saat ini, adalah akibat ulah tangan manusia dalam memanfaatkan alam.

Home :