Alam semesta yang begitu indah. Terbentang sawah dengan tanaman padi menghampar. Daun-daun kelapa melambai-lambai tertiup angin bagaikan tangan bidadari yang memanggilmanggil. Tampak dari kejauhan gunung yang berdiri dengan kukuhnya. Apakah keadaan ini akan kekal selamanya atau suatu saat alam semesta ini akan hancur?

A. Iman kepada Hari Akhir


1. Pengertian Iman kepada Hari Akhir

Iman secara bahasa berarti percaya. Iman menurut istilah berarti diyakini dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan perbuatan. Hari akhir disebut juga hari kiamat. Hari akhir merupakan hari ketika dunia dan seluruh isinya ini binasa.

Iman kepada hari akhir berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa suatu saat dunia dan seluruh isinya akan berakhir. Saat itu manusia akan dibangkitkan dari alam kubur menuju alam akhirat untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Beriman kepada hari akhir merupakan salah satu rukun iman. Seseorang yang tidak mengimani adanya hari akhir bukan orang yang beriman. Hari akhir pasti datang. Kepastian datangnya hari akhir dapat ditemukan dalam ayat Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman seperti berikut.

Wa annas-sa – ‘ata a – tiyatul la – raiba fi – ha – wa annalla – ha yab‘as . u man fil-qubu – r(i).

Artinya: Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (Q.S. al-H.ajj [22]: 7)

Meskipun kepastian hari kiamat telah dijanjikan oleh Allah Swt., waktu terjadinya tidak kita ketahui. Hanya Allah yang mengetahui waktunya. Bahkan, Nabi Muhammad saw. ketika ditanyakan tentang waktu pasti terjadinya hari kiamat, beliau pun tidak mengetahuinya.

Rasulullah hanya memberi penjelasan tanda-tanda tertentu yang menunjukkan datangnya hari kiamat. (Ensiklopedi Islam 3. 1994. Halaman 61–62)

2. Tanda-Tanda Hari Kiamat

Kiamat atau hari akhir pasti datang. Manusia diberitahu tanda-tanda kiamat melalui Rasulullah saw. Tanda-tanda kiamat dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar kiamat. Tanda-tanda kecil kiamat menunjukkan bahwa kiamat sudah dekat.

Tanda-tanda kecil kiamat antara lain sebagai berikut.
a. Ilmu agama dianggap sudah tidak penting lagi.
b. Minuman keras merajalela.
c. Fitnah muncul di mana-mana.
d. Tersebarnya perzinaan.
e. Hamba sahaya perempuan dikawini tuannya.
(Ensiklopedi Islam 3. 1994. Halaman 62)

Tanda-tanda besar kiamat menunjukkan bahwa kiamat sudah sangat dekat waktunya sehingga hampir terjadi. Di antara tanda-tanda besar kiamat yaitu sebagai berikut.
a. Rusaknya Kakbah.
b. Matahari terbit dari barat.
c. Keluarnya Imam Mahdi.
d. Munculnya binatang ajaib yang bisa berbicara.
e. Keluarnya bangsa Yakjuj dan Makjuj.
(Ensiklopedi Islam 3. 1994. Halaman 62)

B. Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Hari Akhir

Dalam Al-Qur’an ada banyak ayat yang menjelaskan tentang terjadinya hari akhir. Seluruh-ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dalam menggambarkan hari akhir menunjukkan bahwa peristiwa pada hari itu sangat dahsyat. Beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan hari akhir sebagai berikut.

1. Surah Al-H. ajj [22] Ayat 1–2

Ya – ayyuhan-na – sut-taqu – rabbakum, inna zalzalatas-sa – ‘ati syai’un ‘az . i – m(un). Yauma taraunaha – taz . halu kullu murd. i‘atin ‘amma – ard. a‘at wa tad. a‘u kullu z . a – ti h. amlin h. amlaha – wa taran-na – sa suka – ra – wa ma – hum bisuka – ra – wa la – kinna ‘az . a – balla – hi syadi – d(un).

Artinya: ”Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (Q.S. al-H. ajj [22]: 1–2)

Ayat di atas menggambarkan peristiwa hari kiamat yang ditandai dengan guncangan bumi dan alam semesta ini dengan sangat keras. Pada hari itu setiap manusia memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak peduli dengan orang lain, bahkan anaknya sendiri.

2. Surah Az-Zalzalah [99] Ayat 1–2

Iz . a – zulzilatil-ard. u zilz . a – laha – . Wa akhrajatil-ard. u as . qa – laha – .

Artinya: ”Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (Q.S. az-Zalzalah [99]: 1–2)

Tidak ada manusia yang dapat menyelamatkan diri pada hari kiamat. Saat itu bumi akan mengeluarkan bebannya. Bumi tidak lagi dapat menahan bebannya karena memang telah terjadi kerusakan di sana sini.

3. Surah Al-H. a – qqah [69] Ayat 14–15

Wa h. umilatil-ard. u wal-jiba – lu fadukkata – dakkataw wa – h. idah(tan). Fayauma’iz . iw waqa‘atil-wa – qi‘ah(tu).

Artinya: ”Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat.” (Q.S. al-H.a – qqah [69]: 14–15)

Gunung-gunung bahkan pada hari itu telah lepas dari permukaan bumi dan saling berbenturan satu sama lain. Apalagi kondisi bumi, tidak ada yang mengendalikan lagi sehingga hancur lebur. Ayat di atas memiliki kemiripan degan Surah al-Wa-qi‘ah [56] ayat 4–5 yang artinya, ”Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya . . . .”

4. Surah Al-Qa – ri‘ah [101] Ayat 1–5

Al-qa – ri‘ah(tu). Mal-qa – ri‘ah(tu). Wa ma – adra – ka mal-qa – ri‘ah(tu). Yauma yaku – nun-na – su kal-fara – syil-mabs . u – s . (i). Wa taku – nul-jiba – lu kal-‘ihnil-manfu – sy(i).

Artinya: ”Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Q.S. al-Qa – ri‘ah [101]: 1–5)

Jika keadaan bumi dan gunung saja hancur lebur, apalagi manusia. Dalam Surah al-Qa-ri‘ah [101] di atas dijelaskan bahwa manusia saat itu seperti laron-laron yang beterbangan. Dengan dahsyatnya peristiwa pada hari kiamat tersebut, semua makhluk Allah mati. Tidak ada tanda-tanda kehidupan pada hari itu.

Nama-Nama Hari Akhir

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis banyak dijelaskan tentang peristiwa hari akhir. Kedua sumber tersebut dalam menjelaskan keadaan hari akhir dengan berbagai nama. Di antara nama-nama hari akhir yang dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah saw. sebagai berikut.
1. Yaumul Qiya – mah, hari kiamat.
2. Yaumur Ra – jifah, hari gempa besar.
3. Yaumus Sa – ‘iqah, hari keguncangan.
4. Yaumuz Zalzalah, hari keguncangan/keruntuhan.
5. Yaumul H.a – qqah, hari kepastian.
6. Yaumul Qa – ri‘ah, hari keributan.
7. Yaumul Akhi – r, hari akhir.
8. Yaumut Ta – mmah, hari bencana agung.
9. Yaumul ‘Asi – r, hari sulit.
10. Yaumun la – raiba fi – hi, hari yang tidak ada lagi keraguan padanya.
11. Yaumul Ba‘s . , hari kebangkitan.
12. Yaumut Tagabun, hari terbukanya segala keguncangan.
13. Yaumun Nusyu – r, hari kebangkitan.
14. Yaumut Tana – d, hari panggilan.
15. Yaumul Mi – za-n, hari pertimbangan.
16. Yaumun la – tajzi – nafsun ‘an nafsin syaian, hari yang tidak dapat seseorang diberi ganjaran oleh yang lain sedikit pun.
17. Yaumul Jami‘, hari pengumpulan.
18. Yaumul Fas. l, hari pemisahan. 
19. Yaumul Wa – qi‘ah, hari kejatuhan.
20. Yaumul Mah. sya – r, hari berkumpul.
21. Yaumud Di – n, hari keputusan.
22. Yaumut. T.ala – q, hari pertemuan.
23. Yaumul Jaza – ’, hari pembalasan.
24. Yaumul ‘Ard. , hari pertontonan.
25. Yaumul Gasyiyah, hari pembalasan.
26. Yaumul Khulu – d, hari yang kekal.
27. Yaumul Khizyi, hari kehinaan.
28. Yaumul Wa‘i – d, hari ancaman.
29. Yaumul H. isa – b, hari perhitungan.
(Ensiklopedi Islam 3. 1994. Halaman 62–63)

C. Proses Terjadinya Kiamat S. ugra – dan Kiamat Kubra-

Penyebutan hari kiamat tidak hanya berlaku untuk hari akhir atau peristiwa hancurnya alam semesta. Kejadian tertentu di alam ini yang menyebabkan kerusakan sehingga menimbulkan korban meninggal dunia dapat dikelompokkan sebagai hari kiamat.

1. Macam-Macam Kiamat


Peristiwa hari kiamat menurut para ulama terdiri atas dua macam, sebagai berikut.

a. Kiamat S.ugra –


Kiamat s.ugra – (kecil) yaitu peristiwa kiamat dalam skala kecil yang terjadi hanya terbatas pada daerah-daerah tertentu, misalnya terjadinya bencana alam di bumi saat ini. Kiamat sugra- hampir setiap hari terjadi. Meninggalnya seseorang, tanah longsor, banjir, gempa bumi, dan gunung meletus merupakan contoh kiamat s. ugra – .

Meninggalnya seseorang merupakan kiamat s. ugra – bagi orang tersebut. Rasulullah saw. bersabda seperti berikut.

Artinya: Dari Anas, Rasulullah saw. bersabda: ”Orang yang mati telah datang kiamatnya”. (H.R. Ibnu Abid-Dunya-)

Selain kiamat berupa kematian seperti dijelaskan pada hadis di atas, kiamat s. ugra – masih banyak jenisnya.

Dengan adanya kiamat sugra – seharusnya menjadi peringatan bagi kita agar selalu siap dalam menghadapi datangnya kiamat. Kematian yang tidak kita ketahui waktu datangnya seharusnya membuat kita selalu siap menghadapinya.

Kita tidak boleh lengah atau melakukan perbuatan dosa karena kita tidak pernah mengetahui waktu maut menjemput.

b. Kiamat Kubra –


Kiamat kubra – (besar) artinya kiamat besar yang ditandai dengan hancurnya alam dan seluruh isinya. Kiamat kubra – ini yang sering disebut sebagai hari akhir. Saat itu semua makhluk akan hancur binasa. Hanya Allah Swt., Sang Khaliq yang kekal abadi selamalamanya.

Kiamat kubra- sampai saat ini belum kita temui, sementara kiamat sugra – sering kita temui dalam kehidupan saat ini.

Bencana alam merupakan peristiwa kiamat s. ugra-.

2. Peristiwa Sesudah Hari Akhir


Setiap ada awal tentu ada akhir. Demikian pula kehidupan di dunia ini karena ada permulaan kehidupan, tentu ada pula akhirnya. Tidak ada yang abadi, kecuali Allah Swt., Zat yang Mahakekal. Kehidupan di dunia ini hanya sementara dan tidak kekal. Kehidupan yang sementara ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kehidupan di akhirat.

Tidak semua manusia dapat memanfaatkan kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya. Ada manusia yang justru terlena dengan kehidupan di dunia. Mereka tidak menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara sehingga mereka bermalas-malasan. Ada manusia yang justru menjadikan dunia ini sebagai tujuan. Mereka tidak menyadari bahwa ada kehidupan setelah kehidupan di dunia.

Manusia yang dapat memanfaatkan kehidupan di dunia untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya kelak akan memperoleh kehidupan bahagia di akhirat. Bagi mereka yang terlena dengan kehidupan dunia hanya kerugian dan penyesalan yang didapatnya. Mereka akan menyesal karena tidak mempergunakan kesempatan hidup di dunia dengan sebaikbaiknya. Di akhirat kelak manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya selama hidup di dunia. Setelah semua makhluk hancur, Allah Swt. memerintahkan kepada Malaikat Israfil untuk meniup terompet (nafiri). Setelah nafiri ditiup oleh Malaikat Israfil secara bersamaan nyawa yang telah tertidur bertahun-tahun silam akan bangun. Saat itu merupakan peristiwa pertama yang terjadi dan disebut Yaumul Ba‘s . , yaitu hari dibangkitkannya manusia dari alam kubur. Peristiwa ini terjadi setelah penantian di alam kubur yang disebut Yaumul Barzah.

Pada saat dibangkitkan, keadaan manusia bermacam-macam. Keadaan tiap-tiap manusia mencerminkan amal perbuatannya selama hidup di dunia. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah az-Zalzalah [99] ayat 6 yang artinya, ”Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya.” Pada saat dibangkitkan ada segolongan manusia yang tampil dengan wajah berseri. Pada saat yang sama ada manusia yang dibangkitkan dengan wajah muram. Bukan hanya wajah yang berbeda, kondisi fisik setiap manusia juga berbeda.

Setelah dibangkitkan dari kubur selanjutnya manusia berbondongbondong menuju suatu tempat untuk menanti pengadilan Allah Swt.

Peristiwa ini disebut Yaumul Mahsyar, yaitu hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar setelah dibangkitkan dari kubur untuk menunggu pengadilan Allah Swt. Pada saat itu, manusia hanya menunggu nasibnya sendiri-sendiri. Mereka tidak ingat sanak saudara. Seorang suami lupa dengan nasib anak dan istrinya. Begitu juga seorang istri tidak sempat lagi memikirkan nasib suami dan anak-anaknya. Mereka sibuk memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Pada hari itu manusia tidak dapat saling menolong. Perhatikan firman Allah Swt. berikut ini.

Wa yauma nah. syuruhum jami – ‘an s . umma naqu – lu lillaz . i – na asyraku – aina syura – ka‘ukumul-laz . i – na kuntum taz‘umu – n(a).

Artinya: Dan (ingatlah), pada hari ketika Kami mengumpulkan mereka semua kemudian Kami berfirman kepada orang-orang yang menyekutukan Allah, ”Di manakah sembahan-sembahanmu yang dahulu kamu sangka (sekutu-sekutu Kami)?” (Q.S. al-An‘a-m [6]: 22)

Di padang mahsyar manusia menunggu pengadilan Allah, pengadilan yang tidak akan salah dalam memberi keputusan. Selanjutnya, tiba Yaumul Hisab, yaitu hari perhitungan amal perbuatan manusia yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia. Pada hari itu catatan amal manusia ditunjukkan. Catatan yang sangat terperinci dan teliti.

Mungkin kalian bertanya-tanya, bagaimana catatan amal itu dibuat? Ingat, selama hidup di dunia manusia didampingi oleh dua orang malaikat. Kedua malaikat Allah tersebut bertugas mencatat segala tingkah laku manusia. Seorang malaikat bertugas mencatat amal baik dan yang lain bertugas mencatat amal buruk. Catatan kedua malaikat tersebut yang akan ditunjukkan di akhirat kelak.

Catatan yang dibuat oleh malaikat sangat teliti dan terperinci. Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang lolos dari catatan malaikat. Semua perbuatan yang dilakukan manusia ada dalam catatan malaikat. Oleh karena itu, berhati-hatilah ketika akan berbuat sesuatu.

Buku catatan malaikat itu yang akan menjadi bukti amal perbuatan manusia. Ketika dihisab yang berbicara bukan mulut kita melainkan anggota tubuh kita. Saksinya adalah anggota tubuh yang lain, para nabi, dan orang-orang yang bersama kita sewaktu melakukan perbuatan tersebut. Saksi utama pada hari itu adalah Allah Swt. dan diri kita sendiri.

Peristiwa yang terjadi selanjutnya adalah Yaumul Mizan. Yaumul Mizan yaitu hari penimbangan amal manusia untuk mengetahui amal yang lebih berat, amal baik atau amal buruk. Pada hari penimbangan amal tidak ada satu pun amal manusia yang terlewat. Sekecil apa pun amal manusia, Allah Swt. pasti memberikan balasan. Jika amal baik yang dilakukan, baik pula balasan yang diterima. Jika amal buruk yang dilakukan, buruk pula balasan yang diterima. Allah Swt. berfirman dalam Surah az-Zalzalah [99] ayat 7–8 yang artinya, ”Maka barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya, ia akan melihat (balasan)nya.

Pada hari penimbangan seluruh amal manusia ditimbang. Jika amal baik yang lebih berat, surga dan seluruh kenikmatan di dalamnya telah menanti. Jika amal buruk lebih berat, neraka dengan siksa di dalamnya telah menunggu. Allah Swt. berfirman seperti berikut

Wal-waznu yaumaiz . inil-h. aqq(u), fa man s . aqulat mawa – zi – nuhu – faula – ’ika humul-muflih. u – n(a). Wa man khaffat mawa – zi – nuhu – faula’ikal-laz . i – na khasiru – anfusahum bima – ka – nu – bi a – ya – tina – yaz.limu – n(a).

Artinya: Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung, dan barang siapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami. (Q.S. al-A‘ra – f [7]: 8–9)

Setelah kalian mempelajari tentang proses terjadinya hari kiamat, perlu membiasakan diri dengan hal-hal berikut ini.
1. Mengimani Allah dengan rajin beribadah dan menjauhi syirik.
2. Bertakwa kepada Allah dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganlarangan- Nya.
3. Segera bertobat jika merasa telah berbuat salah.
4. Membiasakan membantu orang lain yang membutuhkan.
5. Turut serta dalam kegiatan sosial membantu korban bencana.
6. Turut melayat orang yang meninggal dunia sehingga ingat bahwa nyawa kita juga akan dicabut. 7. Memohon kepada Allah agar termasuk orang yang husnul khatimah.

Ikhtisar  tentang Iman kepada Hari Akhir

1. Iman secara bahasa berarti percaya. Iman menurut istilah berarti mempercayai dengan sepenuh hati, mengucapkan dengan lisan, dan mewujudkan dengan perbuatan. Hari akhir disebut juga hari kiamat. Hari kiamat merupakan hari ketika dunia dan seluruh isinya ini binasa.
2. Meskipun kepastian hari kiamat telah dijanjikan oleh Allah Swt., petunjuk tentang waktu terjadinya tidak kita ketahui. Hanya Allah yang mengetahui waktunya.
3. Manusia diberi tahu tanda-tanda kiamat melalui Rasulullah saw. Tanda-tanda kiamat dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar kiamat.
4. Dalam Al-Qur’an ada banyak ayat yang menjelaskan tentang terjadinya hari akhir.
Seluruh ayat Al-Qur’an tersebut dalam menggambarkan hari akhir menunjukkan bahwa peristiwa pada hari itu sangat dahsyat.
5. Ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis dalam menjelaskan keadaan kiamat dengan berbagai nama.
6. Hari kiamat dapat dibagi menjadi dua, yaitu kiamat s.ugra- dan kiamat kubra – .

Muhasabah
Salah satu rukun iman yang sangat penting untuk kita yakini adalah iman kepada hari akhir. Adanya hari akhir menunjukkan bahwa kehidupan manusia dan seluruh makhluk Allah tidak abadi. Setiap manusia akan mati dan kemudian dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan setiap amal dan perbuatannya. Dengan memiliki keimanan kepada hari akhir, seharusnya menumbuhkan semangat kita untuk menjalani hidup yang benar. Kita manfaatkan kesempatan hidup kita untuk beribadah kepada Allah Swt.

Home :